Kaki ini tak lagi perih walau berdarah Jemari ini tak lagi linu walau kaku Tubuh ini tak lagi lumpuh walau berpeluh Hati ini tak lagi resah walau disesah
Jiwa yang merdeka kepakkan sayapmu Patahkan belenggu-belenggu yang semu Kalahkan rasa sakit pada bilurmu Temukan kembali asa dalam dirimu
Tak perlu kaya karena harta Tak perlu bangga karena dipuja Ketika sayap jiwamu mengembang di angkasa Derita hanyalah kebahagiaan sejati yang tertunda
Basahi bumi dengan merah darahmu Topanglah langit dengan putih tulangmu Terbanglah warnai langit di seluruh dunia Dengan warna-warna kebanggaanmu, Indonesia
Tanah air kita tercinta beberapa minggu terakhir ini cukup heboh dengan kasus beredarnya video porno "mirip" artis di berbagai wilayah. Beberapa kelompok masyarakat yang mengaku peduli dengan moral generasi muda mendesak aparat untuk segera menghukum para "pemeran" dan "pengedar" video tersebut. Gelombang kemarahan yang mengatasnamakan 'kepedulian' terhadap moral bangsa juga diarahkan kepada rumah pribadi sang artis, juga diwujudkan dengan upaya penutupan cafe yang diduga milik sang artis (tanpa memikirkan nasib orang-orang yang menggantungkan penghasilannya pada cafe tersebut).
Sementara itu, beberapa hari yang lalu, saya hampir mampus tertabrak mobil karena bis yang saya tumpangi seenaknya saja menurunkan saya di tengah jalan. Betul, di tengah jalan ! Baru selesai kaki saya dua-duanya menapak bumi dengan satu gerakan penuh konsentrasi karena bus tidak akan pernah mau berhenti sempurna saat menurunkan penumpang, sudah ada dua kendaraan pribadi 'siap' menerjang (dalam hal ini mereka tidak salah). Saya benar-benar ada di posisi "Maju kena, mundur kena". Saya cuma bisa mengangkat tangan, berharap di tengah kegelapan malam mereka masih sempat melihat saya, atau paling tidak Bapa di Surga bisa membuat mereka melihat saya.
Akhir cerita, saya selamat, sehingga sekarang bisa menuliskan pengalaman ini. Lalu apa hubungan kejadian yang saya alami dengan kehebohan yang tengah melanda dunia entertainment bangsa kita? Hubungannya terletak pada satu kata, "PEDULI". Di satu pihak sekelompok orang begitu bernafsu menghukum dan menghakimi beberapa oknum (yang notabene sebenarnya bukan tanggung jawab dan berada di luar lingkaran 'dalam' mereka) dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa. Sedangkan realita lain menyajikan sikap yang apatis terhadap sesama di sekitarnya. Seorang supir bis yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keselamatan seisi bis, yaitu penumpang dan krunya, malah bersikap mementingkan diri sendiri demi 'ngebut' mengejar setoran.
Dalam hati saya bertanya-tanya, sungguhkah kita benar-benar peduli dengan bangsa ini? Apakah kita bisa dibilang peduli kalau sudah bisa jadi 'hakim' bagi sesama? Bukankah sesungguhnya peduli dimulai dari hal-hal kecil, pada saat kita menaruh kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri? Jangan-jangan sebenarnya kita tidak benar-benar peduli dengan moral bangsa. Jangan-jangan kita hanya 'pintar' mencari kambing hitam atas kesalahan sendiri karena kita malas peduli.
Tanpa bermaksud membenarkan siapa pun, peduli dengan moral bangsa tidak perlu dengan repot-repot menyalahkan dan mencecar yang sudah jelas-jelas salah. Cobalah berkaca diri dan introspeksi. Mari sama-sama berusaha menyempurnakan yang kurang sempurna, mulai dari diri sendiri. Jadilah contoh yang baik bagi anak anda. Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang anda tidak ingin orang lain lakukan terhadap anda. Cobalah lebih peduli kepada sesama, terutama yang menjadi tanggung jawab anda. Seperti kata seorang Romo kepada saya, berani jadi nomor dua, biarkanlah orang lain jadi nomor satu. Jagalah selalu martabat bangsa dengan bersikap santun pada sesama.
Selalu mulai dari diri sendiri sebelum mengubah sesuatu yang besar. Semoga bangsa Indonesia semakin jaya.
Sumber gambar : http://www.exceptional.org.au/images/values/Care_MONO.jpg
Sore ini ternyata langit Grogol masih menyisakan sedikit mendung. Saya berjalan bersama teman menikmati sejuknya udara Jakarta yang sangat jarang dijumpai. Tiba-tiba ingatan saya melayang pada suatu sore kira-kira seminggu yang lalu, di mana saat itu langit sedikit mendung, menyisakan tanah yang sedikit basah dan udara sejuk, sama seperti sore ini.
Ketika itu, saya berjalan kaki sendirian sepulang dari gereja. Sambil memandangi langit dalam keadaan "penuh Roh Kudus" mode on (:D), saya berdoa dalam hati, "Tuhan, aku pengen kacang rebus." Kemudian saya terus berjalan, sambil berharap mukjizat tiba-tiba datang. Dalam setiap langkah saya berucap doa yang sama, "Tuhan, pengen kacang rebus." Mata saya pun mencari-cari ke kanan dan ke kiri. Ketika melewati tempat di mana tukang kacang rebus biasa mangkal, saya hanya mendapati sisa-sisa kulit kacang di tanah.
Singkat cerita, sore itu saya gagal makan kacang rebus. Dan ketika suasana yang sama kembali hadir seminggu kemudian, tepatnya sore ini, saya pun kembali teringat doa saya yang belum terkabul itu. Akankah kali ini doa saya dijawab, pikir saya sambil tertawa dalam hati menyadari begitu ngidamnya saya dengan kacang rebus. Satu langkah, dua langkah, saya berjalan sambil mengobrol dengan teman-teman saya, dan pikiran akan kacang rebus sedikit menguap.
Tiba-tiba mata saya melihat sebuah gerobak yang sedang parkir di pinggir jalan. Kacang rebus, bukan? Kacang rebus, bukan? Dan jawabannya adalah.......BENAR, itu adalah gerobak kacang rebus. Hore, terima kasih Tuhan. Rasanya begitu bahagia sekali. Saya langsung berhenti dan beli sebungkus (tidak boleh banyak2, ingat asam urat..hehe). Saya berjalan pulang dengan setengah 'melayang' karena senaaaangggg sekali. Sekantong kacang rebus yang saya impikan sejak minggu lalu sudah siap dinikmati dengan mendoan yang sudah saya beli. Mantappppssss.....
Teman saya mengomentari euforia kacang rebus saya itu dengan sebuah kalimat bijak yang mungkin sudah sangat sering kita dengar, "Makanya Pi, segala sesuatu indah pada waktunya." Hehe..mungkin klise, tapi tadi saya benar-benar memaknai dan mengalami apa yang dimaksud kalimat tersebut. Sungguh indah rasanya penantian yang berbalas terkabulnya doa. Sungguh senang bila harapan yang kita pelihara berbuah jawaban.
Teman, sering kita (kita berarti saya ikutan) tidak sabar dalam penantian. Sering kali harapan kita mati dalam proses menunggu jawaban. Well, padahal kalau kita terapkan prinsip "sersan"-->serius dalam pengharapan, santai dalam penantian, kita akan jauh lebih 'happy' saat harapan kita terkabul. Mungkin sebenarnya, Tuhan tidak pernah berniat mempermainkan kita. Mungkin saja, dengan sedikit membuat kita menunggu, 'nikmat' Nya akan lebih terasa.
Yah, ini mungkin cuma persoalan sepele, sesepele kacang rebus. Tapi dalam prosesnya, saya sudah belajar berpasrah dan menanti dengan sukacita. Saya taruh problem saya di pangkuan Tuhan, dan saya jalani hari dengan seriang mungkin yang saya bisa dan tidak menggerutu dalam menunggu. Dan hasil...VOILA!! Gerobak kacang rebus itu muncul dengan tiba-tiba di saat saya hampir melupakannya. Hehe, hidup ini memang lucu kalau dipikir-pikir. Makanya, tidak ada gunanya meratapi doa kita yang belum terkabul.
Semoga prinsip yang sama dapat saya terapkan pada 'masalah-masalah' saya yang lain yang masih dalam proses menunggu jawaban Tuhan. Kalau suatu saat saya lupa, semoga Tuhan hadirkan kembali kacang rebus untuk mengingatkan saya akan pelajaran kecil yang pernah saya petik ("Sambil menunggu, makan kacang rebus saja, Anak-Ku :D ).
NB : Kenapa judulnya "Mencari Kacang Rebus"? Saya sedang berusaha agar judul ini terdengar seperti judul film lokal yang bikin heboh itu, "Menculik Miyabi".(halllahhh, maksa !!)
Ballerina kecil itu berputar perlahan sambil memandangi rumah mewah di seberang jalan. Jendela toko mainan yang besar dan terbuat dari kaca, membuatnya bisa terus memandangi rumah besar bercat putih dari etalasenya. Matanya membulat penuh rasa penasaran dan takjub. Tangannya terangkat gemulai dan lehernya menjulur anggun. Setiap hari dilihatnya tiga gadis kecil bermain di lapangan rumput rumah itu dengan gembira, tertawa dan berguling kesana kemari dengan boneka-bonekanya. Boneka itu sama cantiknya dan sama anggunnya dengan pemilik-pemiliknya. Mereka berpakaian begitu indah dengan pita dan renda warna warni, senada dengan tiga gadis itu.
Semakin sering berputar, semakin sering Sang Ballerina memandang ke arah rumah mewah itu, semakin dia bermimpi untuk tinggal di sana, bergabung bersama boneka-boneka cantik yang ia lihat tiap hari. Sang Ballerina semakin hari semakin murung. Hatinya terus berharap dirinya suatu saat dilirik oleh salah satu pasang mata yang cantik milik tiga gadis kecil itu. Suatu hari, baterai yang memutar piringan di bawah kaki Sang Ballerina habis. Sang pemilik toko rupanya sedang pergi dan baru akan kembali sore nanti. Posisi Sang Ballerina terhenti pada saat ia membelakangi jendela. Sang Ballerina kesal sekali. Hilang sudah kesempatanya memandangi rumah dan pembeli impiannya.
“Ada apa di matamu ?” Tiba-tiba sebuah suara menyela kesedihannya. Sang Ballerina termangu sesaat dan kemudian disadarinya siapa yang berbicara padanya. Ditatapnya sebuah mata menyala di hadapannya. Dia tak menyadari entah sudah berapa hari ada sekotak boneka robot di situ. Dalam setiap putarannya, pikiran Sang Ballerina selalu terpaku pada jendela besar di mana dia bisa memandangi rumah mewah berwarna putih itu. Setiap kali membelakangi jendela, ia tidak pernah perlu repot-repot melihat apa yang ada di sana, karena ia selalu ingin kembali memandang ke arah jendela.
“Ini air mata. Tandanya aku sedang sedih. Tolong jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri.”
“Mengapa kau sedih ? Bukankah hari ini toko ramai dan cuaca cerah ?”
“Bateraiku habis, Robot..”
“Oh, sabarlah sedikit. Tuan pemilik toko akan pulang sore nanti dan pasti akan mengganti bateraimu.”
“Ah...dasar kau tidak tahu apa-apa. Hilang sudah kesempatanku memandangi impianku. Kau tidak tahu betapa berartinya bagiku saat-saat memandangi rumah di seberang jalan itu..rumah impianku..” Sang Ballerina mulai terisak. Tangisnya pecah dan lehernya yang menjulur anggun kini tertunduk lesu.
“Haa...aku masih tak mengerti. Tapi supaya kau tidak bosan, coba lihat ini..” Boneka Robot lalu menngedip-ngedipkan lampu merah di balik sepasang matanya yang berbentuk kotak. Menyala..mati, lalu menyala lagi, begitu terus berulang-ulang. Lalu kepalanya tiba-tiba berputar 360 derajat. Boneka Robot terus mengulangi gerakannya sampai Sang Ballerina tersenyum. Terus dan terus sampai Sang Ballerina tertawa.
Saat sang pemilik toko pulang, bertepatan dengan habisnya baterai dari Boneka Robot. Boneka Robot tergagap menyadari posisi kepalanya yang aneh, menghadap ke belakang, 180 derajat membelakangi Sang Ballerina. Sang Ballerina terbahak-bahak sampai keluar air mata. Belum pernah ia melihat kejadian sekonyol ini. Sang pemilik toko pun heran kenapa dua buah mainannya bisa kehabisan baterai secara bersamaan. Sang Ballerina dan Boneka Robot pun saling mengedipkan mata. Persahabatan pun terjalin tanpa kata.
*
Sejak hari itu, dalam setiap putaran Sang Ballerina, Boneka Robot selalu menyempatkan diri mengerlipkan lampu di matanya, atau memutar kepalanya dari dalam kotaknya. Sang Ballerina pun dalam setiap putarannya, kini selalu menyempatkan diri mengerling ke arah Boneka Robot. Walau ambisi dan impiannya kadang membuatnya berputar lebih cepat dan mengabaikan keberadaan Boneka Robot, Boneka Robot yang tak dapat berputar atau bergerak kemana pun selalu ingat untuk mengerlipkan mata atau memutar kepalanya. Tidak peduli Sang Ballerina melihatnya atau tidak.
Sang Ballerina hanya merasa, kini dia tak takut lagi kehabisan baterai. Walaupun impiannya harus menunggu untuk diteruskan, ada Boneka Robot yang selalu membuatnya tertawa. Ada boneka robot yang membuat waktu serasa berjalan cepat. Sehingga dia tak lagi bosan menunggu waktunya dia boleh bermimpi sambil memandang rumah mewah itu lagi. Selalu ada tawa dan keceriaan menantinya, entah Sang Ballerina ingat atau tidak. Sampai tiba datangnya hari itu....
Mata bulat Sang Ballerina terpaku pada tiga sosok pengunjung toko yang baru saja datang. Tiga orang gadis yang sangat cantik, berambut hitam lebat dan bergelombang, dengan pakaian indah dan gerakan anggun, bergerak dari satu etalase ke etalase. Pemilik toko mengikuti mereka dari belakang sambil sesekali menjawab pertanyaan mereka sambil tersenyum ramah. Sang Ballerina tak dapat melepaskan pandangannya sedikitpun dari tiga gadis itu. Ah, andaikata putarannya bisa berhenti sekarang, karena kakinya mulai terasa gemetar.
Dan tibalah gadis-gadis kecil itu di depan etalase tempat Sang Ballerina berputar. Jantung Sang Ballerina berdegup kencang. Badannya mulai gemetar dan putarannya sedikit tak terkendali. Dari sudut matanya, dilihatnya mata Boneka Robot berkelip sekali ke arahnya. Tapi dia terlalu gemetar untuk peduli. Di hadapannya, impiannya tinggal selangkah lagi untuk jadi nyata. Tuhan... semoga mereka mau membeliku.
“Kak, Ballerina ini cantik sekali. Lihat, betapa anggun wajah dan gerakannya.”
“Entahlah, Dik. Aku tak terlalu menginginkannya. Dia hanya bisa berputar dan berputar sesuai musik.”
“Oh, tenang saja Nona. Ada beberapa pilihan musik di sini. Kecepatan putarannya pun bisa disesuaikan.” Sang pemilik toko menjelaskan.
“Wah, menarik juga. Aku jadi penasaran. Bagaimana kalau kita beli saja ? Kita bisa meletakkannya di depan jendela. Aku setuju dengan Adik. Dia sangat cantik untuk dipandang.”
“Baiklah, terserah kalian. Toh harganya tak terlalu mahal. Bagiku yang penting Papa dan Mama tak akan marah kepada kita.” Si sulung pun mengalah pada desakan dua adiknya.
Dan dalam sekejap, Sang Ballerina sudah berada di dalam sebuah kotak dari plastik bening. Senyum mengembang di wajahnya, mengiringinya melangkah menuju rumah impiannya. Dari meja kasih dipandanginya Boneka Robot, dan seketika itu pula ada rasa berat di dadanya yang menghalanginya tersenyum. Boneka Robot memandangnya, mengerlipkan matanya sekali, kemudian memutar kepalanya sekali. Sang Ballerina tersenyum penuh rasa terima kasih atas persahabatan mereka. Boneka Robot masih mengerlipkan matanya sekali sesaat sebelum Sang Ballerina melewati pintu keluar toko Mainan.
*
Betapa bahagianya hati Sang Ballerina, ketika ia ditempatkan di jendela kamar si bungsu, yang menghadap ke arah toko mainan, tepat di seberang jendela besar tempat dia memandangi rumah mewah yang sekarang menjadi rumahnya. Dipandangnya rumah lamanya dengan penuh kerinduan. Dan ditemukannya sosok Boneka Robot di sana, terlihat begitu jelas dari tempatnya berdiri sekarang. Sang Ballerina tersenyum, kerinduannya sedikit terobati, apalagi kini impiannya telah terwujud. Rasa bangga dan bahagia menyelimuti hatinya.
Dari seberang jalan, Sang Ballerina masih sering melihat Boneka Robot mengerlipkan matanya dan memutar kepalanya, setiap kali ia menghadap ke arah toko mainan. Di sekitarnya kini adalah boneka-boneka yang mahal yang anggun dan cantik luar biasa. Sang Ballerina sering merasa gelisah, karena ia takut sewaktu-waktu baterainya habis dan tidak bisa berputar dengan anggun lagi, si bungsu akan bosan dan membuangnya. Di saat baterainya habis, Sang Ballerina lebih suka memandang ke arah Boneka Robot di seberang jalan, dari pada bertatapan dengan boneka-boneka cantik itu yang seakan-akan mengintimidasinya. Ditatapnya Boneka Robot yang sedang berkerlip dan memutar kepala. Beban hatinya terasa ringan lagi. Dan saat baterainya diganti, Sang Ballerina pun dapat berputar dengan indah lagi.
Sang Ballerina makin hari harus berputar makin cepat. Si bungsu menyukai irama lagu yang riang. Sang Ballerina harus berkonsentrasi, agar tak kalah dengan mainan-mainan yang lain. Putarannya semakin cepat, sehingga ia tak lagi sempat memandang ke arah toko mainan, di mana Boneka Robot masih setia berkerlip dan memutar kepala untuknya. “Tidak, aku tidak boleh kalah. Ini impianku seumur hidup. “ ujarnya dalam hati untuk memacu dirinya berputar secepat irama lagu kesukaan si bungsu. Sang Ballerina kini hampir lupa pada Boneka Robot terutama pada saat ia berputar. Hanya pada saat baterainya habis dan putarannya terhenti, ia dapat memandang keluar jendela dan menikmati putaran kepala dan kerlip mata Boneka Robot yang tak pernah berhenti.
Suatu ketika, saat baterainya sedang habis, Sang Ballerina kembali bertukar pandang dengan Boneka Robot, yang seperti biasa dengan tanpa beban mengerlipkan mata dan memutar kepalanya berulangkali. “Ada yang aneh,” pikir Sang Ballerina. Kali ini ia tidak melihat Boneka Robot berada dalam kotaknya. Belum habis ia berpikir, si bungsu datang dan memasang baterai baru. Sang Ballerina sudah harus kembali berputar dengan anggun demi sang pemilik. Sekilas dilihatnya, Boneka Robot masih berkerlip dan memutar kepala seperti biasa. Dan perlahan seiring dengan bertambah cepatnya putaran Sang Ballerina, rasa heran itu lenyap dari benaknya.
Sore ini Sang Ballerina termangu menunggu datangnya baterai baru. Dilemparkan pandangan ke jendela toko mainan, dan betapa terkejutnya dia, melihat Boneka Robot tak lagi berada di sana. Dipandangi jendela toko mainan dengan gelisah, dan pikirannya terus mencari tahu di mana Boneka Robot, sahabatnya yang sering ia lupakan. Tiba-tiba datanglah mobil besar dari pabrik mainan, dan dilihatnya si pemilik toko keluar membawa kantong besar. Sebuah mainan terlempar jatuh saat kantong besar itu dinaikkan ke dalam mobil. Sang Ballerina terperanjat... Mainan yang jatuh itu adalah Boneka Robot !! Hanya saja, kakinya...
Sang Ballerina teringat, dulu dia pernah melihat beberapa mainan yang sudah rusak dan tidak bisa dijual. Mainan-mainan itu biasanya akan dikembalikan ke pabrik, beberapa akan diperbaiki, tetapi kebanyakan diambil suku cadangnya untuk dibuat mainan dengan model baru yang lebih canggih. Sang Ballerina tersentak, mendadak dia menyadari mengapa saat terakhir ia melihat Boneka Robot dari balik jendela, Boneka Robot tidak lagi berada di kotaknya. Berarti saat itu, kaki Boneka Robot sudah rusak, sehingga dia dikeluarkan dari kotaknya. Rupanya pemilik toko saat itu sedang mencoba memperbaikinya. Dan tak sedikitpun Sang Ballerina menyadari keadaan temannya, karena mata hatinya tertutup ambisi dan impiannya.
Sang Ballerina terdiam memandang dari balik jendela. Sesaat sebelum si pemilik toko memungutnya, Sang Ballerina masih sempat melihat Boneka Robot mengerlipkan matanya sekali, dan setelah itu lampu di matanya padam. Pemilik toko memasukkannya lagi ke dalam karung di mobil. Dan Sang Ballerina tiba-tiba menyadari, ia takkan melihat Boneka Robot lagi. Tiba-tiba si bungsu masuk dan memasang baterai baru. Sang Ballerina kembali berputar dan berputar. Ia tak lagi mampu melihat jelas sekelilingnya. Kali ini bukan karena cepatnya putaran, tapi karena genangan air di matanya.
*
Waktu yang telah berlalu memang tak dapat diputar ulang. Kini dari balik jendela toko mainan, Sang Ballerina hanya dapat memandangi etalase tempat Boneka Robot yang kini ditempati mainan lain. Hatinya sesak oleh rasa sesal. Tak pernah sekalipun ia berputar untuk sahabatnya, tak peduli berapa kerlipan mata dan putaran kepala yang ia terima dan telah menawarkan kesedihannya. Ia selalu berputar dan berputar demi impian dan ambisinya, sehingga tak sempat sekalipun membalas kerlipan dan putaran kepala Boneka Robot yang tak pernah berhenti untuknya. Dipandanginya kamarnya kini, kamar gadis bungsu yang mewah, yang dulu diimpikannya, kini justru terasa hampa.
Hanya kenangan yang tertinggal kini. Penghuni etalase toko mainan terus datang dan pergi. Sang Ballerina kini ditempatkan di atas lemari, dengan baju baru yang cantik dan baterai yang lebih tahan lama. Mainan-mainan baru datang dan menemaninya, semua cantik dan indah. Kini Sang Ballerina tak lagi dapat memandangi jendela toko mainan. Namun ia tak menyesal. Kenangan dan pelajaran berharga yang ia peroleh saat bersama Boneka Robot telah tersimpan rapi di hatinya. Dalam setiap putarannya kini, Sang Ballerina berusaha memaknai dan merasakan setiap gerakannya. Ditutupnya mata dan diresapinya seluruh kenangan bersama Boneka Robot. Ya, putaran itu kini untuk persahabatan mereka.
-fin-
Dedicated to my dearest friend, Gregorius Krishna. Sejak sakitmu sampai tujuh hari kepergianmu, tak sekalipun kupanjatkan doa untukmu, karena aku terlalu sibuk mendoakan diriku sendiri dan impianku, sibuk dengan ‘putaran’ku sendiri. Tak banyak kenangan di antara kita, namun semuanya sangat berarti, dan turut membawaku ada di sini sekarang. Selamat jalan, Sahabat. Kini kau tak sakit lagi. Yesus tersenyum untukmu dan menuntunmu duduk di sisiNya di surga.
I don't wanna cry for you. I just want to remember you.
"Gue suka dia yang dulu, seorang entertainer yang ceria, fun, bukan sosok yang serius kayak sekarang."
Buat para pendengar setia infotainment, mungkin akan langsung tahu kalimat ini diucapkan oleh siapa dalam konteks apa. Sebagai penjelasan singkat, kalimat ini diucapkan oleh suami seorang artis yang kini berprofesi sebagai anggota DPR, sehubungan dengan proses perceraian yang sedang mereka jalani.
Pikiran dan perut langsung berontak waktu mendengar kalimat ini (ehmm.. yang bagian perut sebenarnya karena sudah waktunya makan siang sih..). Apalagi kalimat yang diucapkan kemudian, "Gue si masih cinta sama dia sampai sekarang." Hmm, cinta tapi tidak suka..wah, bingung bagaimana mensinkronkan dua hal ini?
Okelah kalau begitu, kita ngobrol masalah suka dan tidak suka dulu. Perlu disadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang paling pasti di dunia ini. Kita dan pasangan kita adalah bagian dari dunia ini, dan sehebat apapun kita tidak akan pernah imun terhadap perubahan. Saat menikah, dia begitu ceria dan menyenangkan, kemudian berubah menjadi serius. Pada beberapa pasangan, 'perubahan' yang terjadi tidak sesederhana 'ceria menjadi serius'. Ada yang harus menerima kenyataan pasangannya menderita penyakit berat, sehingga harus bergantung sepenuhnya pada orang lain. Saya rasa, tidak ada orang yang 'suka' pada pasangan yang sakit. Tapi apakah itu kemudian jadi excuse untuk berpisah? Nyatanya, banyak pasangan yang tetap mampu berdiri bersama sebagai satu kesatuan di tengah badai 'perubahan' yang pasti akan selalu hadir.
Saya belum pernah menikah, tetapi saya berpikir justru lembaga pernikahan yang sifatnya monogamis dan eksklusif inilah yang dapat melindungi pasangan suami istri dalam menghadapi 'perubahan-perubahan' di dunia ini. Lembaga pernikahan tetap berdiri kokoh melawan dunia yang serba relatif, sama seperti Tuhan sendiri tidak berubah dari dulu hingga saat ini.
"Aku berjanji untuk selalu setia kepadamu, dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di kala sehat dan sakit, dan aku mau mencintai, memelihara, dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Sepenggal kalimat "janji pernikahan" ini seharusnya bisa menjadi 'jalan' untuk kembali kepada cinta, tanpa harus kembali menjadi pribadi yang dulu, atau menolak segala perubahan yang pasti akan datang. Seperti kata seorang psikolog yang saya lupa namanya, "Marriage is a neverending adjusment." Proses penyesuaian yang tidak akan pernah berakhir. Dan kata "mau" dalam janji pernikahan diatas berarti kita secara sadar memilih untuk mencintai pasangan kita sepanjang hidup kita, bukannya mencintai dengan menyesuaikan kondisi dan situasi.
Terus terang, kondisi ideal pernikahan masih sering membuat saya takut. Sanggupkan saya tetap mencintai dia di saat dia tidak sesabar sekarang ? Sanggupkan saya mencintai dia saat dia menyakiti saya ? Sanggupkah saya tetap mencintai dia saat dia 'berbeda' dengan saya ? Membayangkannya saja sudah sulit. Tapi nasehat selalu datang dari yang sudah menjalaninya, " Tidak ada yang tidak mungkin di dalam Tuhan."
Tidak ada maksud untuk menghakimi pihak manapun dalam tulisan ini. Saya hanya seorang yang mencoba belajar dari pengalaman hidup orang lain, siapapun itu. Dan pelajaran yang saya ambil kali ini, terutama untuk yang belum menikah atau sedang mempersiapkan pernikahan adalah : No need to hurry. Take your time. Take a deep breath and think wisely. Pernikahan bukan sebuah perlombaan dengan usia, bukan semata-mata demi status, bukan gejolak emosi sesaat, dan bukan juga 'tameng' anti malu. Ini adalah sebuah keputusan penting tentang bagaimana bertumbuh bersama dengan seseorang yang kita pilih secara sadar sampai akhir hidup kita. Tunggulah sampai kita cukup dewasa untuk berserah kepada Tuhan, dan membiarkan Dia sendiri yang menjadi Imam yang memimpin pernikahan kita.
Bingung...Itu kata pertama yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku ketika ingin menulis tentang Kartini. Memang mudah menuliskan Kartini berdasarkan buku sejarah, tapi kalau menulis tentang sosok Kartini dari hatiku lain ceritanya. Sebel, ini pasti gara-gara sudah hampir 10 tahun tidak pernah Kartini-an. Bingung mau tentang apa dan mau mulai dari mana. Akhirnya tepat jam 12 malam tanggal 20 April 2010, ‘inspirasi’ yang kubutuhkan dikirim oleh Tuhan.
Seorang Kartini masa kini, yang bukan bangsawan, tapi tetap seorang pahlawan, telah menggerakkan hatiku untuk menuliskan ini. Lewat cerita salah seorang sahabatku, aku melihat sosok Kartini masa kini dalam sosok seorang wanita muda. Wanita yang tidak berjuang di medan perang dengan senjata, ataupun lahir di masa perjuangan kemerdekaan. Wanita yang tidak jauh berbeda dengan kita, menikah dan kini berputra seorang balita.
Ibu muda ini dengan berani telah memilih berjuang di samping suaminya, daripada mengeluh soal keuangan dan menambah beban sang suami. Dia memilih untuk bekerja di kantor lima hari dalam seminggu, ditambah menjalankan usaha tambahan di rumah setiap malam, termasuk pada akhir pekan. Dan tetap setia menjalankan tugas mulia yang lain, yaitu merawat dan membesarkan anak, serta mengurus suami.
Mungkin dia tidak menggerakkan dunia dengan pemikiran-pemikiran fenomenal melampaui jaman, atau membuka sekolah, atau berkorespondensi dengan seseorang dari luar negeri. Mungkin tidak ada buku yang bercerita tentang hidupnya. Tapi setidaknya ada satu orang yang terinspirasi oleh hidupnya. Satu orang, yaitu aku, yang tergerak untuk menulis tentang keberaniannya untuk keluar dari ‘zona nyaman’ untuk menjalankan ‘multi-peran’, keberaniannya untuk mengambil sebagian beban suami tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sendiri, keteguhan hatinya untuk menutup mulut rapat-rapat dan tidak mengeluh sedikitpun, dan ketulusannya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, bukannya mempertanyakan apa yang sudah suaminya berikan bagi dirinya.
Kartini-Kartini masa kini ada di mana-mana, pada setiap wanita mandiri yang berani menyumbangkan dirinya bagi sesama. Mungkin sosok wanita muda yang kuceritakan di atas bukanlah hal yang istimewa, hanyalah gambaran umum wanita dan tuntutan hidupnya saat ini. Mungkin juga sosok ini tidak asing bagi Anda, karena dia adalah Anda atau Ibu Anda.
Bila memang demikian, angkatlah kepala Anda dan tersenyumlah, karena Andalah Kartini jaman sekarang. Mungkin tanpa pena ataupun senjata. Tapi setiap gelas kopi yang anda berikan untuk suami, setiap masakan yang anda sajikan, setiap tetes keringat yang anda keluarkan untuk sesuap nasi, setiap belaian dan kata-kata penghiburan bagi anak anda, itulah senjata anda untuk berjuang mengubah dunia menjadi lebih baik. Bangga dan majulah, Para Kartini-ku !
Sumber gambar : http://gabrielreksaatmaja.files.wordpress.com/2009/04/kartini1.jpg
"Sekedar refleksi dan sharing film yang kutonton setiap minggu pertama Bulan April."
Aku adalah seorang anak yang dibesarkan di dalam keluarga yang boleh dibilang religius. Orang tuaku sangat mengutamakan pendidikan agama di dalam keluarga. Papa adalah seorang aktifis dari ketika masih muda, berlanjut menjadi Dewan Pengurus Gereja saat sudah menjadi ayahku. Mama walaupun tidak banyak berkiprah di luar, juga sangat ketat dalam mendidik sisi rohani kami.
Beranjak dewasa, aku mulai mengikuti jejak Papa. Rumah ibadah kami adalah rumah keduaku, tempatku belajar melayani Tuhan dalam peribadatan, tempatku melarikan diri saat malas belajar atau bikin PR, bahkan tempat kaburku di tengah pemberontakanku terhadap orang tua. Aku pun menemukan 'keluarga' baru, yakni teman2 sepelayanan dan senasib denganku, sama-sama lari dari kegalauan hati masing2.
Jangan salah. Biarpun bandel, soal teori agama aku tetap jagonya (atau mungkin dipaksa jago). Bagaimana tidak? Papa sering membelikanku buku2 karangan pastor dan orang-orang pintar untuk didiskusikan bersama. Acara diskusi dan 'brainstorming' ini jadi ajang untuk menambah ilmu sekaligus menunjukkan ketajaman otak dan lidahku. Dan aku pun menyukainya, sampai saat ini.
Namun, apakah ini menjadikan aku kenal dengan Manusia yang Tersalib itu? Jawabannya TIDAK. Walaupun rumah-Nya adalah rumah kedua bagiku, aku tak akrab dengan Tuan Rumah-Nya. Walaupun aku fasih membahas masalah teologis berdasarkan teori-teori yang kubaca, aku tak kenal Siapa yang kubicarakan ini. Aku tetap rapuh, tetap lari ke sana kemari, berusaha memenuhi 'lubang' di hatiku dengan caraku sendiri. Aku tetap terluka, hingga puncaknya aku hampir menjadi atheis, atau paling tidak agnostik. Aku percaya Tuhan ada, somewhere out there... Di tempat yang tak terjangkau olehku. Entah dia peduli padaku atau tidak, aku pun tak terlalu peduli pada Nya...kalau Dia memang ada. Dan di masa-masa itu, aku TETAP seorang aktifis, yang berkarya tanpa pernah memberikan nyawa pada setiap pelayananku. Semua hanyalah rutinitas untuk mencari teman, pengalaman, dan mengobati rasa bosanku dengan sekolah. Aku tetap "Si Tukang Debat", tapi kata-kataku hanya teori kosong.
Tahun 2004, sebuah film yang fenomenal mengubah hidupku. Sejak awal promonya, entah kenapa aku sudah sangat penasaran. Bahkan aku rela menyewa VCD 'bajakan' dengan kualitas ancur karena saking tidak sabar menunggu filmnya di bioskop. Film itu adalah karya Mel Gibson, "The Passion of The Christ". Pertama kali kutonton, walaupun 'diganggu' oleh kualitas gambar dan suara di bawah rata-rata (Newsflash!! Makanya jangan nonton VCD 'bajakan'!), aku tak mampu lagi berkata-kata. Semua teori di kepalaku menguap entah kemana, berganti dengan rasa sesak di dada yang tak tertahankan. Ya, aku menangis (dan terus terjadi setiap kali aku menonton film itu hingga saat ini.)
Kali ini bukan air mata kemarahan dan kesepian. Aku menangis karena malu, merasa bersalah, bahagia, damai, dan entah apa lagi perasaan yang ada, tapi kurasakan perasaan2 itu 'menambal' lubang yang selama ini menganga di hatiku. Aku menangis, tapi aku tak lagi merasa dingin. Sebaliknya, aku merasa hangat, seperti kehangatan pelukan. Dan itu membuatku semakin menangis.
Adegan demi adegan terus berganti. Demikian juga pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan dalam hati. Benarkah semua ini Kaulakukan untukku? Aku yang bukan siapa-siapa ini? Aku yang tak lebih dari debu di mata-Mu? Aku yang bahkan ikut melempar batu ke arah-Mu dan melukai wajah-Mu? Ya, aku tak kuat lagi menahan rasa bersalahku ketika sadar bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang melukai tubuh dan hatiNya?
Semudah itukah Kauberikan pengampunan itu padaku? Setulus itukah hatiMu memaafkan orang-orang yang sudah menyakitiMu? Sejauh itukah Engkau memikirkan nasib dan keselamatan kami, hingga Engkau memilih jalan ini dengan berani? Saat Kau melihatku sekarang, apakah yang Kaulihat? Anak yang nakal, tak tahu diri, dan tak tahu terima kasih? Atau anak yang sangat Kaurindukan?
Tak ada jawaban yang kudengar, selain kehangatan yang semakin kurasakan di dalam hatiku. Biarpun aku belum mengenalMu, Kau telah lebih dulu mengenal dan mencintaiku, tanpa syarat. Karena Engkau adalah cinta, dan mencintai adalah hakikat diriMu. Kau mampu mengutuk, tapi selalu Kaupilih cinta, karena cinta ternyata 'obat' yang jauh melebihi keampuhan hukuman. Banyak orang yang mampu mengeraskan hati terhadap hukuman. Tapi siapa yang sanggup menolak cinta sebesar ini?
Jangan heran bila aku mendadak jadi cengeng setiap menjelang Paskah. Aku selalu menangis apabila teringat bilur-bilur yang kubuat di tubuhNya, setiap kali aku 'mencambuk' sesamaku dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Aku selalu menangis mengingat betapa murahnya pengampunan yang Ia berikan padaku yang bukan siapa-siapa ini. Namun kini aku tak harus lari ke mana pun lagi, karena jawaban yang selama ini kucari sudah ada dalam hatiku. 'Lubang' di hatiku, yang terus menganga tak peduli apapun yang kulakukan untuk menambalnya (dan tidak ada satupun usahaku yang berhasil) sudah ditutup dengan Cinta Terbesar yang ada di dunia. Dialah awal dan tujuan akhir hidupku, dan alasan aku hidup di dunia. Dia Kekasih dan Pemilik Jiwaku, Sang Manusia di atas kayu salib, yang darahNya telah tertumpah demi aku.
Happy Easter, All!!
Link gambar:http://static.squidoo.com/resize/squidoo_images/-1/lens2336830_1229730587dreamstime_1405768%5B1%5D.jpg
Awal Maret kemaren adalah pertama kali saya melihat Terminal 3 Cengkareng yang baru dan bergaya modern. Pertama kalinya juga saya mendarat di Jakarta menjelang malam, di mana lampu-lampu mulai dinyalakan. Sungguh luar biasa, latar belakang hitam yang dihiasi kelap-kelip lampu di landasan membuat saya 'gatal' untuk mengabadikannya dengan kamera saya.
Celingak-celinguk, sambil tangan merogoh tas meraih kamera pocket saya, muncul rasa ragu di dalam hati. Satu, boleh gak ya motret di Bandara. Salah-salah saya malah ditegur petugas keamanan. Dua, repot ni, susah ngeluarin kamera dari tas tangan sementara satu tangan lain menenteng tas plastik yang lumayan berat. Tiga, blitz kamera saya cukup terang gak ya? Ntar malah tidak kelihatan apa-apa, percuma juga. Empat, saya malu diliatin orang, ntar dikira udik banget si, bandara aja belum pernah liat, sampe dipotret-potret segala.
Alhasil, saya pun urung mengambil satu gambar pun. Dengan berat hati saya berjalan ke bagian pengambilan bagasi tanpa berbuat apa-apa. Sambil menunggu koper saya datang, saya memandangi pintu masuk di belakang saya. Bisa ditebak, saya menyesaaaaallll sekali. Kenapa saya musti mikir hanya untuk satu jepretan saja? Kenapa begitu banyak rasionalisasi dan pembenaran yang muncul saat saya ingin melakukan sesuatu? Padahal, untuk bisa mendarat di Cengkareng di Terminal 3 pada jam yang sama kesempatannya tidak datang setahun sekali. Saya harus memesan tiket dari maskapai penerbangan yang sama, berangkat pada jam yang sama (dengan harapan tidak ada delay). Dan kalaupun akhirnya bisa, suasananya mungkin tidak akan sama lagi. Entah suasana obyeknya atau suasana hati saya yang berubah.
Saya merenung berhari-hari. Sebuah kesempatan yang mungkin tidak terlalu penting, tapi belum tentu datang lagi, telah saya biarkan lolos dari tangan saya dengan sadar dan sengaja. Mungkin sebelumnya, juga banyak kesempatan langka dalam hidup saya, yang lewat begitu saja, karena kemalasan, penundaan, ketakutan, keraguan, dan 'setan-setan' kecil lain yang bikin kita batal melakukan yang ingin kita lakukan. Padahal mungkin kesempatan itu tidak akan datang lagi, then finally you realize you've just lost your moment. Seperti hujan di bulan Maret yang panas ini, deras.. lalu menghilang tanpa bekas.
Jujur saja, untuk menulis refleksi inipun, butuh dua kali hujan di bulan Maret untuk mengingatkan saya akan langkanya momen-momen berharga dalam hidup ini. Ternyata sudah dibebani sesal pun, saya masih bandel. Saya jadi teringat adegan Tom Cruise yang sedang berlatih samurai untuk pertama kali dalam film "The Last Samurai". Instrukturnya berkata dengan bahasa Japanglish (Japanese-English), "Too many mind. Mind the opponent. Mind the people watching." Gitulah kurang lebih.
So, kadang-kadang spontanitas itu perlu dalam hidup ini. Itulah pelajaran yang saya dapat. When you wanna do something, when your heart feels right, and the moment is right, just do it! Ga usah terlalu banyak mikirin komentar orang, ga usah cari alasan dan pembenaran. Andaikata waktu itu saya nekad menjepret, dan ternyata kemudian saya dimarahi sekuriti, setidaknya sekarang saya punya satu atau dua gambar bukti kenekadan saya, yang membuat momen indah saat itu jadi lebih abadi. Tumbuh satu kepercayaan diri yang baru karena kita telah berbuat sesuai nurani kita. So everyone...Catch your moment, before it gone forever.
“Parah...Kacau ni anak !”, gerutu Ben dalam hati. Dinginnya pagi tak mempengaruhi suasana hatinya yang sudah panas. Ditatapnya HP dalam genggaman tangannya. Kemarin malam ia mengirimkan SMS kepada adiknya untuk mengajaknya beribadah hari Minggu ini. Kosong, tidak ada tanggapan hingga pagi berikutnya menjelang. Dan tidak ada tanda-tanda SMS balasan dikirim semalam.
“Biarlah. Aku jemput saja ke kosnya.” Pikir Ben sambil bangkit menuju kamar mandi.
Di bawah dinginnya guyuran air, Ben mulai bisa berpikir. Benaknya berjalan mundur, memandangi peristiwa-peristiwa dan percakapan-percakapan yg pernah terjalin antara dia dan adik semata wayangnya. Teringat setiap pagi yang ia alami ketika ia menjemput adiknya di kos.
“Dik, ayo bangun. Waktunya sowan Bapak.” Serunya sambil mengguncang pelan tubuh adiknya yang masih terlelap. Joe selalu masih tidur dengan tubuh bau rokok ketika Ben menjemputnya setiap minggu. Setelah 2 menit, Joe akan menggeliat pelan dan terbangun lalu berjalan terseok-seok ke kamar mandi. Tanpa kata, tanpa ekspresi, tanpa secercah antusiasme pribadi.
Ben merenungkan rutinitas mingguan bersama adiknya selama ini. Adiknya tak pernah membantah, selalu menurut saat ia bangunkan, selalu patuh di tempat ibadat, taat mengikuti ritual yang ada. Tapi seperti tanpa nyawa. Entah bagaimana Ben mengetahui itu dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya. Tapi Ben tidak mau putus asa. Segala cara dicobanya untuk memancing hasrat adiknya. Mulai dari ceramah, diskusi, sesi curhat. Semua sudah dilakukan, tapi tak juga membuat adiknya bergeming. Ben tak tahu sampai kapan lagi dia harus beribadah bersama robot.
Suatu kali pernah Joe bertanya, “Mas, kenapa Mas panggil Tuhan itu Bapak?”
“Itulah artinya Tuhan bagi kita, dan itulah bagaimana Tuhan memandang kita, Dik. Hubungan Tuhan dan manusia adalah seperti hubungan Bapak dan anak. Bapak itu selalu sayang kepada anaknya, tidak peduli anaknya nakal ataupun kurang ajar. Bapak itu selalu penuh ampun. Saat anak dalam kesusahan, Bapak selalu yang pertama mendampingi. Bagi Mas, Tuhan lebih dari sekedar Bapak. Tuhan adalah Bapak segala Bapak, karena kebapakannya yang mengatasi keluhuran semua bapak di dunia ini.”
Joe diam seperti termenung, namun wajahnya tetap datar. Ben tak tahu lagi harus berkata apa. Dia sangat berharap adiknya bertanya, protes, atau apa pun lah. Ben mengharapkan sebuah diskusi, debat, atau apalah yang menandakan hadirnya rasa ingin tahu dari Joe. Namun harapannya tak pernah terpenuhi. Ben hanya bisa pasrah, menghibur diri dan mengatakan pada dirinya bahwa adiknya sedang dalam masa pencarian identitas, hal yang biasa terjadi pada pemuda tanggung usia kuliah. Masa-masa pencarian yang dulu pernah ia lalui sampai akhirnya dia menemukan sosok Bapak yang ia cari.
Tetapi kini hatinya tak lagi dapat dibohongi. Sudah seminggu Joe sulit dihubungi. Ketika dua minggu berturut-turut kemarin Ben karena satu hal tidak bisa menjemput Joe untuk beribadah bersama, ternyata Joe memang sama sekali tidak pergi. Padahal Ben tak kurang mengingatkan. Tak ada balasan, tak ada tanggapan. Bahkan dering HP tak pernah dijawab. Ben tak kurang akal. Diputuskan untuk langsung menjemput adiknya pagi ini juga.
*
Ketukan di pintu kamar Joe tak kunjung dijawab. Kamarnya dikunci. Joe pasti sedang pergi. “Tak mungkin dia tidur sampai tidak mendengar suara pintu diketuk sekeras ini.” Ben merasa geram dalam hati. Matahari semakin tinggi. Tak ada pilihan baginya kecuali berangkat menuju rumah Bapaknya, walaupun rasa dongkol di hatinya membuatnya ragu apakah dia bisa fokus berdoa dan merasakan kasih sayang Sang Bapak.
Sepulang dari Rumah Bapak, hati Ben merasa sedikit sejuk, walaupun rasa kesal itu tidak sepenuhnya hilang. Dipacunya motor kembali ke tempat kos Joe. “Positive thingking...”, gumamnya dalam hati. “Siapa tahu Joe sedang keluar sebentar cari makan.” Ya, siang ini ia akan berada di kos adiknya sampai sore, supaya sore nanti dia bisa mengajak Joe ke Rumah Bapaknya, sekalian cari makan malam.
Ketika melewati kompleks kampus adiknya, matanya tertumbuk pada sepeda motor Yamaha yang sangat dikenalnya diparkir di warung nasi padang depan kampus. Segera diputarnya motor ke arah warung tempat motor Joe terparkir. Betapa rasa dongkol yang berhasil ditekannya seharian, kini kembali meluap dengan kapasitas melampaui batas kesadarannya. Dilihatnya Joe sedang duduk tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Dari wajahnya yang seperti belum terkena air, Ben yakin Joe belum pulang dari semalam. Dengan geram, dihampirinya Joe dengan langkah lebar, dan digebraknya meja di depan Joe. Beberapa teman Joe kaget, sebagian ada yang menjauh.
“Dari mana kamu?” Emosinya semakin meluap melihat wajah Joe yang tetap datar.
“Maen mas..”
“Kenapa tidak balas SMS ? “
“Lupa. Kecapekan.”
“Anjing lu. Dicariin orang dari kemaren. Apa susahnya si ngabarin? Nanti sore sowan Bapak.” Suaranya meninggi membuat tegang wajah-wajah di sekitarnya.
“Capek, Mas. Aku mau tidur.” Dilihatnya wajah Joe sedikit mengeras. Tapi Ben tidak peduli.
“Minggu kemarin sudah sowan?”
“Nggak..” jawab Joe acuh tak acuh.
“Apa alasanmu?”
“Yah...pulang kemaleman, pagi ketiduran, sorenya hujan. Gitu doang...”
“Cuma itu alasanmu? Kamu pikir ketiduran, kemaleman, hujan atau apapun itu cukup masuk akal untuk menghalangi kamu ketemu Bapak. Parah kamu!!” Ben tak peduli lagi ia kini berteriak dan membuat semua mata memandanginya.
“Mas Ben tidak usah menghakimi. Mas sendiri juga sama waktu seumur saya.” Joe kini bangkit dari kursinya, walaupun suaranya tetap tenang.
“Tahu apa kamu?”
“Mas Ben sendiri juga waktu kuliah tidak pernah ke gereja.”
“Perlu Mas kasih semua no. Telepon teman kuliah Mas ? Biar kamu bisa cek seperti apa Mas waktu kuliah” tantang Ben.
“Ah, ga usah. Joe sudah tahu Mas seperti apa. Gak perlu pake bukti.”
“Sudah pintar kamu rupanya. Kalo sudah pintar, harusnya tahu membedakan yang baik dan yang buruk. Kamu juga bukan anak kecil yang bisanya cuma membebek orang yang lebih dewasa. Kurang apa contoh yang Mas berikan? Masih kurang ditelepon dan dijemput tiap minggu.”
“Contohnya si sudah baik. Tapi kalau saya yang belum sadar? Semua kan perlu proses.” Dengan enteng Joe menjawab sambil kembali duduk di kursinya dan menyeruput tehnya yang masih setengah.
Ben semakin naik pitam. Dicengkeramnya kerah jaket Joe hingga kini wajah mereka hanya berjarak dua centimeter.
“Apa kamu bilang?! Belum sadar ?? Atau tidak mau sadar? Siapa yang buat kamu jadi bodoh begini? Apa cewek kampus sebelah yang lagi kamu dekati?”
“Ga usah bawa-bawa cewek, dasar BANCI !!”
Tepat sebelum tinju Ben mendarat di wajah Joe, beberapa pasang tangan mendekati dan menarik mereka berdua saling menjauh.
“Mas Ben gak lebih munafik daripada koruptor. Jangan Mas pikir dengan semua ritual kosong itu, Mas merasa lebih baik dari aku. Bapak..Bapak.. itu semua cuma khayalan Mas Ben, yang manja dan gak mampu mengatasi masalahnya sendiri !! Aku sudah nyaman dengan diriku saat ini. Aku punya cinta, aku banyak teman yang menyayangiku dan hidup saling tolong denganku, nilaiku cukup baik. Aku mampu peduli dan berbuat baik kepada orang lain tanpa tetek bengek yang Mas puja-puji itu.”
“Dasar tak tahu diuntung !! Kamu kira siapa yang membuatmu bernapas saat ini, sampai bisa mengata-ngatai Masmu? Kamu kira dari mana nilai-nilai bagusmu yang kamu banggakan? Usahamu sendiri ? Bah !! Dan yang paling penting, SIAPA yang memampukanmu untuk berbuat baik? SIAPA yang memberimu kekuatan untuk mencintai dan menolong sesama ? SIAPA ?!”
Joe terdiam kehilangan kata. Namun raut mukanya keras. Ben putus asa, belum pernah dia merasa segagal ini. Ditepisnya tangan-tangan yang memeganginya dengan kasar. Ben pergi menuju motornya, dan menjejakkan kakinya dengan kasar. Ia merasa seperti pecundang. Dipacunya motornya pulang ke kosnya sendiri. Seraut senyum lembut melayang di benaknya, tempat ia mencari perlindungan saat hatinya luka. Wakilnya Bapak di dunia.
*
“Sabar, Nang..” suara ibunya terdengar lembut di ujung telepon.
“Aku capek, Ma. Joe seperti batu. Dia sama sekali tidak mempedulikan perkataanku. Lebih parahnya lagi dia sudah tidak peduli dengan Bapaknya. Dia sama sekali tidak ada inisiatif dan itikad baik untuk berubah dan berusaha lebih peka. Apa Mama tidak sakit mendengar ini semua ?”
“Nak, hati mama sama sakitnya dengan kamu. Anak yang mama besarkan dan mama ajarkan nilai-nilai kehidupan dengan tangan dan mulut mama sendiri, yang kepadanya juga mama berikan seluruh hidup mama, bisa berkata-kata seperti itu. Tapi kamu harus selalu yakin, Bapak kita punya rencana indah dibalik semua ini.”
“Tapi kita harus berbuat sesuatu , Ma. Ben tidak mau diam saja. Ben akan lakukan apapun yang bisa dilakukan untuk membawa Joe pulang ke Rumah Bapak.”
“Mama setuju, Joe. Tapi mama yakin Roh Bapak di dalam diri Joe tidak akan tinggal diam. Sebagaimanapun usaha Joe untuk membungkamnya, Mama yakin Roh Bapak tidak akan kalah. Bapaklah pemilik kita semua Joe. Percayalah, Dia pasti akan bertindak, karena dia lebih sayang Joe daripada kita semua.”
“Mudah-mudahan, Ma.. Aku coba percaya.”
“Kamu harus percaya, Nang. Mama akan panggil Joe pulang minggu depan. Biar ini jadi urusan kami orang tuanya. Kamu banyak-banyaklah puasa dan berdoa ya..”
Percakapan via telepon dengan ibundanya bagaikan oase di padang gurun bagi Ben. Uluran tangan Bapak sangat terasa lewat suara ibunya. Bagaimana mungkin Joe bisa tidak bersyukur atas anugerah seindah Mama? Ben lelah berpikir dan menganalisa. Ia memilih jatuh bersimpuh dan menyerahkan diri dalam penyelenggaraan Bapak.
*
Tiga bulan sudah berlalu sejak pertengkaran terakhir Ben dan Joe. Ben mendengar dari orang tuanya bahwa Joe menolak pulang karena ada urusan. Entah apakah Joe masih ada kontak dengan keluarga di kampung halaman, tapi tidak ada satupun SMS ataupun telepon dari Joe untuk Ben tiga bulan terakhir ini.
Ben berusaha bersabar. Tiap kali emosinya meluap teringat sikap tak mau tahu adiknya, Mamalah yang jadi tempat curahan hatinya. Perlahan namun pasti, Ben belajar menyerahkan perkara ini pada Bapaknya, dan belajar memandangnya dari sudut pandang Sang Bapak segala cinta. Sedikit demi sedikit rasa marah Ben berubah menjadi iba. Kini sudah sebulan terakhir, doanya tak lagi dipenuhi sumpah serapah untuk adiknya, tetapi diucapkan dengan tulus penuh cinta demi kebaikan dan keselamatan Joe.
Suatu sore, sepulang dari kantor, Ben mendapat sebuah kejutan. Dilihatnya motor Yamaha milik Joe terparkir manis di halaman kosnya. Ben menguatkan hatinya untuk melangkah ke dalam dan menaiki tangga. Benar saja, dilihatnya Joe berjongkok memegang helm sambil bersandar di pintu kamar Ben.
“Malam ini ke mana, Mas?”
“Tidak kemana-mana. Ada apa?”
“Saya mau ngobrol.”
“Kamu sudah makan ?”
“Masih kenyang. Agak malaman saja nanti.”
Ben tersenyum dan diputarnya kunci kamar untuk membuka pintu. Ben memasuki kamarnya, diikuti Joe dari belakang. Ben mengambil kursi putar di depan komputernya, sedangkan joe mengambil posisi setengah berbaring di ranjang Ben, sambil meraih bantal untuk mengganjal punggungnya.
“Aku jenuh, Mas.” Terlontarlah kalimat pertama dari mulut Joe.
“Ada masalah dengan teman?” Ben menahan diri dari sikap menuduh dan menghakimi.
“Tidak, tidak ada masalah.”
“Nilai kamu ?”
“Baik, seperti dulu.”
“Atau masalah teman wanita.”
“Tidak ada yang istimewa. Kedekatan kami masih seperti dulu.”
“Lalu...”
“Ya itu tadi. Bosan. Atau lebih tepatnya jenuh. Semuanya mengalir lancar seperti aliran air. Tapi aku tak tahu aliran ini akan kemana. Di depan mataku seperti tidak ada batu, padahal itu mustahil. Logikaku tak berhenti menentangnya. Aku seperti berjalan di luar kendaliku. Apa jadinya bila ini berujung pada tempat yang bukan tempatku ? Dan aku sama sekali tak kuasa menghentikannya. Aku tak mau terlambat. Aku takut aku terlena..”
Dengan sabar, Ben mendengar dan mencerna semua omongan Joe. Kali ini ia mencoba mendengar dengan hati, seperti saran Mama.
“Kalau semua terlalu baik, aku jadi bingung. Tidak mungkin hidup seperti ini kan, Mas. Seperti roda yang berjalan sendiri.”
“Joe, kamu tahu tidak, Bapak kita selalu menggandeng tangan kita dalam menjalani hidup. Resikonya, memang kita jadi harus berusaha mengikuti Bapak. Kalau Bapak jalannya terlalu cepat buat kita, kita jadi harus berlari kecil menyamakan langkah. Tentunya akan lebih capek. Tapi Bapak tidak akan melepaskan tangan kita.”
Ben meneruskan, “Kalau musuhnya Bapak, dia selalu gendong kita. Memang awalnya terasa sangat enak dan nyaman. Santai dan tidak usah berusaha apa-apa. Tapi kita seperti batu yang menggelinding dari puncak gunung. Kita tak punya kuasa untuk mengendalikannya. Dan Empunya tipu muslihat tak mungkin membiarkan kita tahu kemana sebenarnya kita akan dibawa, yaitu siksaan kekal bersamanya.”
“Berbeda dengan Bapak yang selalu ingin kita berjalan bersamanya. Ia tidak ingin kita hanya pasrah. Ia ingin kita bertanya ke mana arah perjalanan kita, berdiskusi tentang perjalanan kita. Kalau capek, bilang saja. Mengeluhlah saat ingin mengeluh, mintalah istirahat saat lelah, bahkan kau boleh marah dan protes saat semua terasa terlalu berat. Karena Bapak kita sayang pada anaknya, yang mau peduli pada anaknya. Dia pasti akan berikan apa yang kaubutuhkan, sekalipun saat itu kamu tidak merasa membutuhkan.”
Lama Joe terdiam. Ben pun menahan lidahnya untuk bertanya. Dibiarkannya Joe bermain dengan pikirannya.
“Mas, aku lapar. Makan yuk..”
“Ayo.” Jawab Ben sambil tersenyum ceria. Rasa lega yang aneh muncul dalam hatinya.
“Lusa jemput aku ya?”
“Mau kemana?”
“Mau pulang.”
“Hehe...Bapak udah kangen tuh. Makanya dia manggil sampai kamu ga bisa nolak lagi.”
“Enak aja. Ini logikaku yang jalan.”
“Lah, masih berani bilang ini logikamu ?” Sindir Ben sambil tersenyum simpul.
Joe hanya tersipu. “Aku gak janji lusa uda bangun. Tapi pasti aku ada di kos.”
“Kalo ditelepon angkat dong.”
“Amiinnnn..”
*
Inspired by true story mixed with priest’s preach on Sunday Mass.
Sumber gambar : http://images.google.co.id/imglanding?q=perjalanan&imgurl=http://azaxs.net/journal/wp-content/uploads/2009/05/walk.jpg&imgrefurl=http://azaxs.net/journal/2009/05/perjalanan-itu.htm&usg=__EfIPXR5yLQzPSfrU3-4ch20vqWs=&h=315&w=420&sz=48&hl=id&sig2=v95nUTTSrBfkd0eGGHI_IA&itbs=1&tbnid=I9fbHgHXmDpgJM:&tbnh=94&tbnw=125&prev=/images%3Fq%3Dperjalanan%26hl%3Did%26sa%3DG%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&ei=ClmNS_-jIMq0rAf6ncGVAg&sa=G&gbv=2&tbs=isch:1&start=0#tbnid=I9fbHgHXmDpgJM&start=0
Sekedar mau curhat, menyoroti fenomena yang semakin marak tumbuh bersamaan dengan makin populernya Facebook di kalangan anak muda. Bukan bermaksud menyinggung, bukan menghakimi. Mohon maaf sebelumnya bila ada yang tersudutkan. Itu hak anda untuk marah, saya hargai. Seperti hak saya juga untuk menuliskan uneg2 ini, hanya bermaksud mengomentari secara global.
Sering banget akhir2 ini, kalau kita membaca info status dari pengguna FB, pada relationship status berisi tulisan "Married". Ada yang aneh? Kebetulan yang saya baca adalah info pengguna FB yang berada di friendlist saya. Saya langsung mikir, "Oya ? Kapan pestanya? Akad / pemberkatannya di mana? Kok ga ada undangan ? Ga ada kabar, adanya malah 'kabur..." Udah gitu, dilihat umurnya, masih awal 20-an, kerja belum, masih kuliah. *tuing tuing* bingung mode on
Dari 'diemin aja deh', eh ternyata ga kuat juga hati ini kalo ga ngoceh. Karena uda lama nahan 'gatel', akhirnya setelah baca berita tentang anak di bawah umur yang dibawa kabur pacarnya, tumpah juga deh 'tabungan' kritiknya. Well, saudari-saudariku tercinta, saya ulangi lagi saudarI, bukan saudara. Saya bicara sebagai wanita di sini, kalau ada pria yang mau mengganti relationship status saya dengan married, maka pria itu haruslah pria bertanggung jawab yang sudah meminta ijin secara resmi dan berjanji kepada Tuhan dan orang tua saya untuk merawat saya dan setia kepada saya sampai maut memisahkan. Status married baru layak saya pakai apabila sudah sah secara hukum dan agama, dengan diiringi doa restu keluarga dan handai taulan.
Kenapa untuk SaudarI yang saya tekankan di sini? Coba bayangkan, apabila seorang gadis berusia 19 thn menaruh status Married pada akun jejaring sosialnya, yang notabene akan dibaca oleh semua orang dari berbagai kalangan? Mungkin gak sih salah satu saudara jauh, atau kenalan orang tua membaca ? Apalagi sekarang banyak bapak2 dan ibu2 yang ikutan FB (termasuk bapak saya yang usianya sudah 60 thn). Kalo saya bisa suarakan apa yang ada di pikiran mereka, mungkin kira2 begini : "Loh, anake Mbak anu wis kawin to?" "Karo sapa (sama siapa)?" "Kok aneh, nda ada kabar berita?" "Hee, Mbak Anu yo nda pernah cerita2. Emang ada pestane gitu? "Mbuh. Aku ya nda denger ada undangan2 gitu.." "Kok diem2 ya...Jangan2...Apa hamil duluan?" "Ah, mosok to. Jangan pitnah kamu." "Lho, isa wae tho. Wong diem2 tau2 nikah. Yang masih family aja nda tau." ..dan lain-lain teruskan sendiri. Ini baru satu contoh. Bukannya pihak cowok tidak ikut dirugikan, tapi konsekuensi moral yang diterima pihak cewek biasanya lebih berat. Apalagi di Indonesia, yang masih menjunjung adat keTimuran.
Teman2 tercinta yang masih muda, penuh gairah dan kreatifitas, sah-sah saja kalau mau berinovasi dengan akun FB. Toh ini kan akun milik sendiri (suka-suka gue donk). Tapi akan jauh lebih baik untk memahami ini. Status married, berbeda dengan in a relationship atau complicated. Status married mengandung muatan hukum dan moral serta tanggung jawab yang tidak kecil. Status married bukan hanya melibatkan kedua belah pihak ybs, tapi juga keluarga dan masyarakat sekitar anda. Jadi berhati-hatilah dalam berinovasi, terutama di dunia maya seperti ini. Para pemuda dan pemudi seperti kita ini adalah masa depan bangsa, maka sudah seharusnya kita belajar bertanggung jawab dan paham betul konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakan kita. Belajarlah bahwa setiap tindakan kita, mungkin bukan hanya kita yang akan menanggung akibatnya. Itulah bertanggung jawab. Itulah salah satu syarat menjadi dewasa. Bukan sekedar mengaku-ngaku sudah married, padahal belum.
Masih banyak kok cara kreatif yang bertanggung jawab untuk menunjukkan eksistensi kita. Pasang kek foto berdua yang lucu dan tidak 'haram' untuk dilihat, kirim2an gift pake aplikasi FB yang sudah banyak banget. Panggilan2 kayak Mami, Papi, Ayah, Bunda, disimpen dulu deh buat konsumsi kalangan terbatas. Boleh dipajang di FB kalau sudah sah di mata Allah dan hukum negara kita. Kan masih banyak sapaan2 mesra lain, yang rada jadul kayak Say, Yang, Cin...Atau yang lagi ngetren, Hon, Beib..Atau yang jayus sekalian, Pac...(singkatan dari Pacar), Sih...(singkatan dari kekasih). Atau mau gombal sampe bikin muntah ? Ada Honey Bunny Sweetie Baby...Yuuuu silakan dipilih.
Kenapa FB membatasi usia pengguna minimal 18 tahun? Dunia maya adalah dunia seluas samudera dan seruwet hutan rimba yang kita tidak pernah bisa prediksi, karena tidak kasat mata. Usia tersebut dianggap sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, termasuk saat mengisi data2 di akun FB. Kejujuran adalah bagian yang penting dari tanggung jawab, misalnya dengan tidak memalsukan umur atau status. Ini berlaku juga buat yang udah married beneran yah..Awas kalau masih ngaku2 single karena ada 'udang di balik batu' alias niat terselubung yang tidak baik.
Jadi marilah kita yang sudah dipercaya ini menggunakannya dengan dewasa dan bertanggung jawab.
Buat yang merasa 'kena' boleh komen disini. Mungkin ada objektif lain yang saya tidak tau, silahkan dikemukakan. Misalnya : "Mbak jangan sembarangan nuduh ya. Saya terpaksa pake status married karena mau dijodohkan sama pria beristri untuk melunasi utang orang tua say .." Monggo di-share, barangkali ada yang bisa membantu.