
Bingung...Itu kata pertama yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku ketika ingin menulis tentang Kartini. Memang mudah menuliskan Kartini berdasarkan buku sejarah, tapi kalau menulis tentang sosok Kartini dari hatiku lain ceritanya. Sebel, ini pasti gara-gara sudah hampir 10 tahun tidak pernah Kartini-an. Bingung mau tentang apa dan mau mulai dari mana. Akhirnya tepat jam 12 malam tanggal 20 April 2010, ‘inspirasi’ yang kubutuhkan dikirim oleh Tuhan.
Seorang Kartini masa kini, yang bukan bangsawan, tapi tetap seorang pahlawan, telah menggerakkan hatiku untuk menuliskan ini. Lewat cerita salah seorang sahabatku, aku melihat sosok Kartini masa kini dalam sosok seorang wanita muda. Wanita yang tidak berjuang di medan perang dengan senjata, ataupun lahir di masa perjuangan kemerdekaan. Wanita yang tidak jauh berbeda dengan kita, menikah dan kini berputra seorang balita.
Ibu muda ini dengan berani telah memilih berjuang di samping suaminya, daripada mengeluh soal keuangan dan menambah beban sang suami. Dia memilih untuk bekerja di kantor lima hari dalam seminggu, ditambah menjalankan usaha tambahan di rumah setiap malam, termasuk pada akhir pekan. Dan tetap setia menjalankan tugas mulia yang lain, yaitu merawat dan membesarkan anak, serta mengurus suami.
Mungkin dia tidak menggerakkan dunia dengan pemikiran-pemikiran fenomenal melampaui jaman, atau membuka sekolah, atau berkorespondensi dengan seseorang dari luar negeri. Mungkin tidak ada buku yang bercerita tentang hidupnya. Tapi setidaknya ada satu orang yang terinspirasi oleh hidupnya. Satu orang, yaitu aku, yang tergerak untuk menulis tentang keberaniannya untuk keluar dari ‘zona nyaman’ untuk menjalankan ‘multi-peran’, keberaniannya untuk mengambil sebagian beban suami tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sendiri, keteguhan hatinya untuk menutup mulut rapat-rapat dan tidak mengeluh sedikitpun, dan ketulusannya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, bukannya mempertanyakan apa yang sudah suaminya berikan bagi dirinya.
Kartini-Kartini masa kini ada di mana-mana, pada setiap wanita mandiri yang berani menyumbangkan dirinya bagi sesama. Mungkin sosok wanita muda yang kuceritakan di atas bukanlah hal yang istimewa, hanyalah gambaran umum wanita dan tuntutan hidupnya saat ini. Mungkin juga sosok ini tidak asing bagi Anda, karena dia adalah Anda atau Ibu Anda.
Bila memang demikian, angkatlah kepala Anda dan tersenyumlah, karena Andalah Kartini jaman sekarang. Mungkin tanpa pena ataupun senjata. Tapi setiap gelas kopi yang anda berikan untuk suami, setiap masakan yang anda sajikan, setiap tetes keringat yang anda keluarkan untuk sesuap nasi, setiap belaian dan kata-kata penghiburan bagi anak anda, itulah senjata anda untuk berjuang mengubah dunia menjadi lebih baik.
Bangga dan majulah, Para Kartini-ku !
Sumber gambar : http://gabrielreksaatmaja.files.wordpress.com/2009/04/kartini1.jpg

