Powered By Blogger

Senin, 03 Mei 2010

Dulu, Sekarang, ..atau Selamanya ??

"Gue suka dia yang dulu, seorang entertainer yang ceria, fun, bukan sosok yang serius kayak sekarang."

Buat para pendengar setia infotainment, mungkin akan langsung tahu kalimat ini diucapkan oleh siapa dalam konteks apa. Sebagai penjelasan singkat, kalimat ini diucapkan oleh suami seorang artis yang kini berprofesi sebagai anggota DPR, sehubungan dengan proses perceraian yang sedang mereka jalani.

Pikiran dan perut langsung berontak waktu mendengar kalimat ini (ehmm.. yang bagian perut sebenarnya karena sudah waktunya makan siang sih..). Apalagi kalimat yang diucapkan kemudian, "Gue si masih cinta sama dia sampai sekarang." Hmm, cinta tapi tidak suka..wah, bingung bagaimana mensinkronkan dua hal ini?

Okelah kalau begitu, kita ngobrol masalah suka dan tidak suka dulu. Perlu disadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang paling pasti di dunia ini. Kita dan pasangan kita adalah bagian dari dunia ini, dan sehebat apapun kita tidak akan pernah imun terhadap perubahan. Saat menikah, dia begitu ceria dan menyenangkan, kemudian berubah menjadi serius. Pada beberapa pasangan, 'perubahan' yang terjadi tidak sesederhana 'ceria menjadi serius'. Ada yang harus menerima kenyataan pasangannya menderita penyakit berat, sehingga harus bergantung sepenuhnya pada orang lain. Saya rasa, tidak ada orang yang 'suka' pada pasangan yang sakit. Tapi apakah itu kemudian jadi excuse untuk berpisah? Nyatanya, banyak pasangan yang tetap mampu berdiri bersama sebagai satu kesatuan di tengah badai 'perubahan' yang pasti akan selalu hadir.

Saya belum pernah menikah, tetapi saya berpikir justru lembaga pernikahan yang sifatnya monogamis dan eksklusif inilah yang dapat melindungi pasangan suami istri dalam menghadapi 'perubahan-perubahan' di dunia ini. Lembaga pernikahan tetap berdiri kokoh melawan dunia yang serba relatif, sama seperti Tuhan sendiri tidak berubah dari dulu hingga saat ini.


"Aku berjanji untuk selalu setia kepadamu, dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di kala sehat dan sakit, dan aku mau mencintai, memelihara, dan menghormatimu sepanjang hidupku."


Sepenggal kalimat "janji pernikahan" ini seharusnya bisa menjadi 'jalan' untuk kembali kepada cinta, tanpa harus kembali menjadi pribadi yang dulu, atau menolak segala perubahan yang pasti akan datang. Seperti kata seorang psikolog yang saya lupa namanya, "Marriage is a neverending adjusment." Proses penyesuaian yang tidak akan pernah berakhir. Dan kata "mau" dalam janji pernikahan diatas berarti kita secara sadar memilih untuk mencintai pasangan kita sepanjang hidup kita, bukannya mencintai dengan menyesuaikan kondisi dan situasi.

Terus terang, kondisi ideal pernikahan masih sering membuat saya takut. Sanggupkan saya tetap mencintai dia di saat dia tidak sesabar sekarang ? Sanggupkan saya mencintai dia saat dia menyakiti saya ? Sanggupkah saya tetap mencintai dia saat dia 'berbeda' dengan saya ? Membayangkannya saja sudah sulit. Tapi nasehat selalu datang dari yang sudah menjalaninya, " Tidak ada yang tidak mungkin di dalam Tuhan."

Tidak ada maksud untuk menghakimi pihak manapun dalam tulisan ini. Saya hanya seorang yang mencoba belajar dari pengalaman hidup orang lain, siapapun itu. Dan pelajaran yang saya ambil kali ini, terutama untuk yang belum menikah atau sedang mempersiapkan pernikahan adalah : No need to hurry. Take your time. Take a deep breath and think wisely. Pernikahan bukan sebuah perlombaan dengan usia, bukan semata-mata demi status, bukan gejolak emosi sesaat, dan bukan juga 'tameng' anti malu. Ini adalah sebuah keputusan penting tentang bagaimana bertumbuh bersama dengan seseorang yang kita pilih secara sadar sampai akhir hidup kita. Tunggulah sampai kita cukup dewasa untuk berserah kepada Tuhan, dan membiarkan Dia sendiri yang menjadi Imam yang memimpin pernikahan kita.

Tidak ada komentar: