Powered By Blogger

Kamis, 20 Mei 2010

Mencari Kacang Rebus

Sore ini ternyata langit Grogol masih menyisakan sedikit mendung. Saya berjalan bersama teman menikmati sejuknya udara Jakarta yang sangat jarang dijumpai. Tiba-tiba ingatan saya melayang pada suatu sore kira-kira seminggu yang lalu, di mana saat itu langit sedikit mendung, menyisakan tanah yang sedikit basah dan udara sejuk, sama seperti sore ini.

Ketika itu, saya berjalan kaki sendirian sepulang dari gereja. Sambil memandangi langit dalam keadaan "penuh Roh Kudus" mode on (:D), saya berdoa dalam hati, "Tuhan, aku pengen kacang rebus." Kemudian saya terus berjalan, sambil berharap mukjizat tiba-tiba datang. Dalam setiap langkah saya berucap doa yang sama, "Tuhan, pengen kacang rebus." Mata saya pun mencari-cari ke kanan dan ke kiri. Ketika melewati tempat di mana tukang kacang rebus biasa mangkal, saya hanya mendapati sisa-sisa kulit kacang di tanah.

Singkat cerita, sore itu saya gagal makan kacang rebus. Dan ketika suasana yang sama kembali hadir seminggu kemudian, tepatnya sore ini, saya pun kembali teringat doa saya yang belum terkabul itu. Akankah kali ini doa saya dijawab, pikir saya sambil tertawa dalam hati menyadari begitu ngidamnya saya dengan kacang rebus. Satu langkah, dua langkah, saya berjalan sambil mengobrol dengan teman-teman saya, dan pikiran akan kacang rebus sedikit menguap.

Tiba-tiba mata saya melihat sebuah gerobak yang sedang parkir di pinggir jalan. Kacang rebus, bukan? Kacang rebus, bukan? Dan jawabannya adalah.......BENAR, itu adalah gerobak kacang rebus. Hore, terima kasih Tuhan. Rasanya begitu bahagia sekali. Saya langsung berhenti dan beli sebungkus (tidak boleh banyak2, ingat asam urat..hehe). Saya berjalan pulang dengan setengah 'melayang' karena senaaaangggg sekali. Sekantong kacang rebus yang saya impikan sejak minggu lalu sudah siap dinikmati dengan mendoan yang sudah saya beli. Mantappppssss.....

Teman saya mengomentari euforia kacang rebus saya itu dengan sebuah kalimat bijak yang mungkin sudah sangat sering kita dengar, "Makanya Pi, segala sesuatu indah pada waktunya." Hehe..mungkin klise, tapi tadi saya benar-benar memaknai dan mengalami apa yang dimaksud kalimat tersebut. Sungguh indah rasanya penantian yang berbalas terkabulnya doa. Sungguh senang bila harapan yang kita pelihara berbuah jawaban.

Teman, sering kita (kita berarti saya ikutan) tidak sabar dalam penantian. Sering kali harapan kita mati dalam proses menunggu jawaban. Well, padahal kalau kita terapkan prinsip "sersan"-->serius dalam pengharapan, santai dalam penantian, kita akan jauh lebih 'happy' saat harapan kita terkabul. Mungkin sebenarnya, Tuhan tidak pernah berniat mempermainkan kita. Mungkin saja, dengan sedikit membuat kita menunggu, 'nikmat' Nya akan lebih terasa.

Yah, ini mungkin cuma persoalan sepele, sesepele kacang rebus. Tapi dalam prosesnya, saya sudah belajar berpasrah dan menanti dengan sukacita. Saya taruh problem saya di pangkuan Tuhan, dan saya jalani hari dengan seriang mungkin yang saya bisa dan tidak menggerutu dalam menunggu. Dan hasil...VOILA!! Gerobak kacang rebus itu muncul dengan tiba-tiba di saat saya hampir melupakannya. Hehe, hidup ini memang lucu kalau dipikir-pikir. Makanya, tidak ada gunanya meratapi doa kita yang belum terkabul.

Semoga prinsip yang sama dapat saya terapkan pada 'masalah-masalah' saya yang lain yang masih dalam proses menunggu jawaban Tuhan. Kalau suatu saat saya lupa, semoga Tuhan hadirkan kembali kacang rebus untuk mengingatkan saya akan pelajaran kecil yang pernah saya petik ("Sambil menunggu, makan kacang rebus saja, Anak-Ku :D ).

NB : Kenapa judulnya "Mencari Kacang Rebus"? Saya sedang berusaha agar judul ini terdengar seperti judul film lokal yang bikin heboh itu, "Menculik Miyabi".(halllahhh, maksa !!)

Tidak ada komentar: