
Tanah air kita tercinta beberapa minggu terakhir ini cukup heboh dengan kasus beredarnya video porno "mirip" artis di berbagai wilayah. Beberapa kelompok masyarakat yang mengaku peduli dengan moral generasi muda mendesak aparat untuk segera menghukum para "pemeran" dan "pengedar" video tersebut. Gelombang kemarahan yang mengatasnamakan 'kepedulian' terhadap moral bangsa juga diarahkan kepada rumah pribadi sang artis, juga diwujudkan dengan upaya penutupan cafe yang diduga milik sang artis (tanpa memikirkan nasib orang-orang yang menggantungkan penghasilannya pada cafe tersebut).
Sementara itu, beberapa hari yang lalu, saya hampir mampus tertabrak mobil karena bis yang saya tumpangi seenaknya saja menurunkan saya di tengah jalan. Betul, di tengah jalan ! Baru selesai kaki saya dua-duanya menapak bumi dengan satu gerakan penuh konsentrasi karena bus tidak akan pernah mau berhenti sempurna saat menurunkan penumpang, sudah ada dua kendaraan pribadi 'siap' menerjang (dalam hal ini mereka tidak salah). Saya benar-benar ada di posisi "Maju kena, mundur kena". Saya cuma bisa mengangkat tangan, berharap di tengah kegelapan malam mereka masih sempat melihat saya, atau paling tidak Bapa di Surga bisa membuat mereka melihat saya.
Akhir cerita, saya selamat, sehingga sekarang bisa menuliskan pengalaman ini. Lalu apa hubungan kejadian yang saya alami dengan kehebohan yang tengah melanda dunia entertainment bangsa kita? Hubungannya terletak pada satu kata, "PEDULI". Di satu pihak sekelompok orang begitu bernafsu menghukum dan menghakimi beberapa oknum (yang notabene sebenarnya bukan tanggung jawab dan berada di luar lingkaran 'dalam' mereka) dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa. Sedangkan realita lain menyajikan sikap yang apatis terhadap sesama di sekitarnya. Seorang supir bis yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keselamatan seisi bis, yaitu penumpang dan krunya, malah bersikap mementingkan diri sendiri demi 'ngebut' mengejar setoran.
Dalam hati saya bertanya-tanya, sungguhkah kita benar-benar peduli dengan bangsa ini? Apakah kita bisa dibilang peduli kalau sudah bisa jadi 'hakim' bagi sesama? Bukankah sesungguhnya peduli dimulai dari hal-hal kecil, pada saat kita menaruh kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri? Jangan-jangan sebenarnya kita tidak benar-benar peduli dengan moral bangsa. Jangan-jangan kita hanya 'pintar' mencari kambing hitam atas kesalahan sendiri karena kita malas peduli.
Tanpa bermaksud membenarkan siapa pun, peduli dengan moral bangsa tidak perlu dengan repot-repot menyalahkan dan mencecar yang sudah jelas-jelas salah. Cobalah berkaca diri dan introspeksi. Mari sama-sama berusaha menyempurnakan yang kurang sempurna, mulai dari diri sendiri. Jadilah contoh yang baik bagi anak anda. Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang anda tidak ingin orang lain lakukan terhadap anda. Cobalah lebih peduli kepada sesama, terutama yang menjadi tanggung jawab anda. Seperti kata seorang Romo kepada saya, berani jadi nomor dua, biarkanlah orang lain jadi nomor satu. Jagalah selalu martabat bangsa dengan bersikap santun pada sesama.
Selalu mulai dari diri sendiri sebelum mengubah sesuatu yang besar. Semoga bangsa Indonesia semakin jaya.
Sumber gambar :
http://www.exceptional.org.au/images/values/Care_MONO.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar