“Parah...Kacau ni anak !”, gerutu Ben dalam hati. Dinginnya pagi tak mempengaruhi suasana hatinya yang sudah panas. Ditatapnya HP dalam genggaman tangannya. Kemarin malam ia mengirimkan SMS kepada adiknya untuk mengajaknya beribadah hari Minggu ini. Kosong, tidak ada tanggapan hingga pagi berikutnya menjelang. Dan tidak ada tanda-tanda SMS balasan dikirim semalam.
“Biarlah. Aku jemput saja ke kosnya.” Pikir Ben sambil bangkit menuju kamar mandi.
Di bawah dinginnya guyuran air, Ben mulai bisa berpikir. Benaknya berjalan mundur, memandangi peristiwa-peristiwa dan percakapan-percakapan yg pernah terjalin antara dia dan adik semata wayangnya. Teringat setiap pagi yang ia alami ketika ia menjemput adiknya di kos.
“Dik, ayo bangun. Waktunya sowan Bapak.” Serunya sambil mengguncang pelan tubuh adiknya yang masih terlelap. Joe selalu masih tidur dengan tubuh bau rokok ketika Ben menjemputnya setiap minggu. Setelah 2 menit, Joe akan menggeliat pelan dan terbangun lalu berjalan terseok-seok ke kamar mandi. Tanpa kata, tanpa ekspresi, tanpa secercah antusiasme pribadi.
Ben merenungkan rutinitas mingguan bersama adiknya selama ini. Adiknya tak pernah membantah, selalu menurut saat ia bangunkan, selalu patuh di tempat ibadat, taat mengikuti ritual yang ada. Tapi seperti tanpa nyawa. Entah bagaimana Ben mengetahui itu dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya. Tapi Ben tidak mau putus asa. Segala cara dicobanya untuk memancing hasrat adiknya. Mulai dari ceramah, diskusi, sesi curhat. Semua sudah dilakukan, tapi tak juga membuat adiknya bergeming. Ben tak tahu sampai kapan lagi dia harus beribadah bersama robot.
Suatu kali pernah Joe bertanya, “Mas, kenapa Mas panggil Tuhan itu Bapak?”
“Itulah artinya Tuhan bagi kita, dan itulah bagaimana Tuhan memandang kita, Dik. Hubungan Tuhan dan manusia adalah seperti hubungan Bapak dan anak. Bapak itu selalu sayang kepada anaknya, tidak peduli anaknya nakal ataupun kurang ajar. Bapak itu selalu penuh ampun. Saat anak dalam kesusahan, Bapak selalu yang pertama mendampingi. Bagi Mas, Tuhan lebih dari sekedar Bapak. Tuhan adalah Bapak segala Bapak, karena kebapakannya yang mengatasi keluhuran semua bapak di dunia ini.”
Joe diam seperti termenung, namun wajahnya tetap datar. Ben tak tahu lagi harus berkata apa. Dia sangat berharap adiknya bertanya, protes, atau apa pun lah. Ben mengharapkan sebuah diskusi, debat, atau apalah yang menandakan hadirnya rasa ingin tahu dari Joe. Namun harapannya tak pernah terpenuhi. Ben hanya bisa pasrah, menghibur diri dan mengatakan pada dirinya bahwa adiknya sedang dalam masa pencarian identitas, hal yang biasa terjadi pada pemuda tanggung usia kuliah. Masa-masa pencarian yang dulu pernah ia lalui sampai akhirnya dia menemukan sosok Bapak yang ia cari.
Tetapi kini hatinya tak lagi dapat dibohongi. Sudah seminggu Joe sulit dihubungi. Ketika dua minggu berturut-turut kemarin Ben karena satu hal tidak bisa menjemput Joe untuk beribadah bersama, ternyata Joe memang sama sekali tidak pergi. Padahal Ben tak kurang mengingatkan. Tak ada balasan, tak ada tanggapan. Bahkan dering HP tak pernah dijawab. Ben tak kurang akal. Diputuskan untuk langsung menjemput adiknya pagi ini juga.
*
Ketukan di pintu kamar Joe tak kunjung dijawab. Kamarnya dikunci. Joe pasti sedang pergi. “Tak mungkin dia tidur sampai tidak mendengar suara pintu diketuk sekeras ini.” Ben merasa geram dalam hati. Matahari semakin tinggi. Tak ada pilihan baginya kecuali berangkat menuju rumah Bapaknya, walaupun rasa dongkol di hatinya membuatnya ragu apakah dia bisa fokus berdoa dan merasakan kasih sayang Sang Bapak.
Sepulang dari Rumah Bapak, hati Ben merasa sedikit sejuk, walaupun rasa kesal itu tidak sepenuhnya hilang. Dipacunya motor kembali ke tempat kos Joe. “Positive thingking...”, gumamnya dalam hati. “Siapa tahu Joe sedang keluar sebentar cari makan.” Ya, siang ini ia akan berada di kos adiknya sampai sore, supaya sore nanti dia bisa mengajak Joe ke Rumah Bapaknya, sekalian cari makan malam.
Ketika melewati kompleks kampus adiknya, matanya tertumbuk pada sepeda motor Yamaha yang sangat dikenalnya diparkir di warung nasi padang depan kampus. Segera diputarnya motor ke arah warung tempat motor Joe terparkir. Betapa rasa dongkol yang berhasil ditekannya seharian, kini kembali meluap dengan kapasitas melampaui batas kesadarannya. Dilihatnya Joe sedang duduk tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Dari wajahnya yang seperti belum terkena air, Ben yakin Joe belum pulang dari semalam. Dengan geram, dihampirinya Joe dengan langkah lebar, dan digebraknya meja di depan Joe. Beberapa teman Joe kaget, sebagian ada yang menjauh.
“Dari mana kamu?” Emosinya semakin meluap melihat wajah Joe yang tetap datar.
“Maen mas..”
“Kenapa tidak balas SMS ? “
“Lupa. Kecapekan.”
“Anjing lu. Dicariin orang dari kemaren. Apa susahnya si ngabarin? Nanti sore sowan Bapak.” Suaranya meninggi membuat tegang wajah-wajah di sekitarnya.
“Capek, Mas. Aku mau tidur.” Dilihatnya wajah Joe sedikit mengeras. Tapi Ben tidak peduli.
“Minggu kemarin sudah sowan?”
“Nggak..” jawab Joe acuh tak acuh.
“Apa alasanmu?”
“Yah...pulang kemaleman, pagi ketiduran, sorenya hujan. Gitu doang...”
“Cuma itu alasanmu? Kamu pikir ketiduran, kemaleman, hujan atau apapun itu cukup masuk akal untuk menghalangi kamu ketemu Bapak. Parah kamu!!” Ben tak peduli lagi ia kini berteriak dan membuat semua mata memandanginya.
“Mas Ben tidak usah menghakimi. Mas sendiri juga sama waktu seumur saya.” Joe kini bangkit dari kursinya, walaupun suaranya tetap tenang.
“Tahu apa kamu?”
“Mas Ben sendiri juga waktu kuliah tidak pernah ke gereja.”
“Perlu Mas kasih semua no. Telepon teman kuliah Mas ? Biar kamu bisa cek seperti apa Mas waktu kuliah” tantang Ben.
“Ah, ga usah. Joe sudah tahu Mas seperti apa. Gak perlu pake bukti.”
“Sudah pintar kamu rupanya. Kalo sudah pintar, harusnya tahu membedakan yang baik dan yang buruk. Kamu juga bukan anak kecil yang bisanya cuma membebek orang yang lebih dewasa. Kurang apa contoh yang Mas berikan? Masih kurang ditelepon dan dijemput tiap minggu.”
“Contohnya si sudah baik. Tapi kalau saya yang belum sadar? Semua kan perlu proses.” Dengan enteng Joe menjawab sambil kembali duduk di kursinya dan menyeruput tehnya yang masih setengah.
Ben semakin naik pitam. Dicengkeramnya kerah jaket Joe hingga kini wajah mereka hanya berjarak dua centimeter.
“Apa kamu bilang?! Belum sadar ?? Atau tidak mau sadar? Siapa yang buat kamu jadi bodoh begini? Apa cewek kampus sebelah yang lagi kamu dekati?”
“Ga usah bawa-bawa cewek, dasar BANCI !!”
Tepat sebelum tinju Ben mendarat di wajah Joe, beberapa pasang tangan mendekati dan menarik mereka berdua saling menjauh.
“Mas Ben gak lebih munafik daripada koruptor. Jangan Mas pikir dengan semua ritual kosong itu, Mas merasa lebih baik dari aku. Bapak..Bapak.. itu semua cuma khayalan Mas Ben, yang manja dan gak mampu mengatasi masalahnya sendiri !! Aku sudah nyaman dengan diriku saat ini. Aku punya cinta, aku banyak teman yang menyayangiku dan hidup saling tolong denganku, nilaiku cukup baik. Aku mampu peduli dan berbuat baik kepada orang lain tanpa tetek bengek yang Mas puja-puji itu.”
“Dasar tak tahu diuntung !! Kamu kira siapa yang membuatmu bernapas saat ini, sampai bisa mengata-ngatai Masmu? Kamu kira dari mana nilai-nilai bagusmu yang kamu banggakan? Usahamu sendiri ? Bah !! Dan yang paling penting, SIAPA yang memampukanmu untuk berbuat baik? SIAPA yang memberimu kekuatan untuk mencintai dan menolong sesama ? SIAPA ?!”
Joe terdiam kehilangan kata. Namun raut mukanya keras. Ben putus asa, belum pernah dia merasa segagal ini. Ditepisnya tangan-tangan yang memeganginya dengan kasar. Ben pergi menuju motornya, dan menjejakkan kakinya dengan kasar. Ia merasa seperti pecundang. Dipacunya motornya pulang ke kosnya sendiri. Seraut senyum lembut melayang di benaknya, tempat ia mencari perlindungan saat hatinya luka. Wakilnya Bapak di dunia.
*
“Sabar, Nang..” suara ibunya terdengar lembut di ujung telepon.
“Aku capek, Ma. Joe seperti batu. Dia sama sekali tidak mempedulikan perkataanku. Lebih parahnya lagi dia sudah tidak peduli dengan Bapaknya. Dia sama sekali tidak ada inisiatif dan itikad baik untuk berubah dan berusaha lebih peka. Apa Mama tidak sakit mendengar ini semua ?”
“Nak, hati mama sama sakitnya dengan kamu. Anak yang mama besarkan dan mama ajarkan nilai-nilai kehidupan dengan tangan dan mulut mama sendiri, yang kepadanya juga mama berikan seluruh hidup mama, bisa berkata-kata seperti itu. Tapi kamu harus selalu yakin, Bapak kita punya rencana indah dibalik semua ini.”
“Tapi kita harus berbuat sesuatu , Ma. Ben tidak mau diam saja. Ben akan lakukan apapun yang bisa dilakukan untuk membawa Joe pulang ke Rumah Bapak.”
“Mama setuju, Joe. Tapi mama yakin Roh Bapak di dalam diri Joe tidak akan tinggal diam. Sebagaimanapun usaha Joe untuk membungkamnya, Mama yakin Roh Bapak tidak akan kalah. Bapaklah pemilik kita semua Joe. Percayalah, Dia pasti akan bertindak, karena dia lebih sayang Joe daripada kita semua.”
“Mudah-mudahan, Ma.. Aku coba percaya.”
“Kamu harus percaya, Nang. Mama akan panggil Joe pulang minggu depan. Biar ini jadi urusan kami orang tuanya. Kamu banyak-banyaklah puasa dan berdoa ya..”
Percakapan via telepon dengan ibundanya bagaikan oase di padang gurun bagi Ben. Uluran tangan Bapak sangat terasa lewat suara ibunya. Bagaimana mungkin Joe bisa tidak bersyukur atas anugerah seindah Mama? Ben lelah berpikir dan menganalisa. Ia memilih jatuh bersimpuh dan menyerahkan diri dalam penyelenggaraan Bapak.
*
Tiga bulan sudah berlalu sejak pertengkaran terakhir Ben dan Joe. Ben mendengar dari orang tuanya bahwa Joe menolak pulang karena ada urusan. Entah apakah Joe masih ada kontak dengan keluarga di kampung halaman, tapi tidak ada satupun SMS ataupun telepon dari Joe untuk Ben tiga bulan terakhir ini.
Ben berusaha bersabar. Tiap kali emosinya meluap teringat sikap tak mau tahu adiknya, Mamalah yang jadi tempat curahan hatinya. Perlahan namun pasti, Ben belajar menyerahkan perkara ini pada Bapaknya, dan belajar memandangnya dari sudut pandang Sang Bapak segala cinta. Sedikit demi sedikit rasa marah Ben berubah menjadi iba. Kini sudah sebulan terakhir, doanya tak lagi dipenuhi sumpah serapah untuk adiknya, tetapi diucapkan dengan tulus penuh cinta demi kebaikan dan keselamatan Joe.
Suatu sore, sepulang dari kantor, Ben mendapat sebuah kejutan. Dilihatnya motor Yamaha milik Joe terparkir manis di halaman kosnya. Ben menguatkan hatinya untuk melangkah ke dalam dan menaiki tangga. Benar saja, dilihatnya Joe berjongkok memegang helm sambil bersandar di pintu kamar Ben.
“Malam ini ke mana, Mas?”
“Tidak kemana-mana. Ada apa?”
“Saya mau ngobrol.”
“Kamu sudah makan ?”
“Masih kenyang. Agak malaman saja nanti.”
Ben tersenyum dan diputarnya kunci kamar untuk membuka pintu. Ben memasuki kamarnya, diikuti Joe dari belakang. Ben mengambil kursi putar di depan komputernya, sedangkan joe mengambil posisi setengah berbaring di ranjang Ben, sambil meraih bantal untuk mengganjal punggungnya.
“Aku jenuh, Mas.” Terlontarlah kalimat pertama dari mulut Joe.
“Ada masalah dengan teman?” Ben menahan diri dari sikap menuduh dan menghakimi.
“Tidak, tidak ada masalah.”
“Nilai kamu ?”
“Baik, seperti dulu.”
“Atau masalah teman wanita.”
“Tidak ada yang istimewa. Kedekatan kami masih seperti dulu.”
“Lalu...”
“Ya itu tadi. Bosan. Atau lebih tepatnya jenuh. Semuanya mengalir lancar seperti aliran air. Tapi aku tak tahu aliran ini akan kemana. Di depan mataku seperti tidak ada batu, padahal itu mustahil. Logikaku tak berhenti menentangnya. Aku seperti berjalan di luar kendaliku. Apa jadinya bila ini berujung pada tempat yang bukan tempatku ? Dan aku sama sekali tak kuasa menghentikannya. Aku tak mau terlambat. Aku takut aku terlena..”
Dengan sabar, Ben mendengar dan mencerna semua omongan Joe. Kali ini ia mencoba mendengar dengan hati, seperti saran Mama.
“Kalau semua terlalu baik, aku jadi bingung. Tidak mungkin hidup seperti ini kan, Mas. Seperti roda yang berjalan sendiri.”
“Joe, kamu tahu tidak, Bapak kita selalu menggandeng tangan kita dalam menjalani hidup. Resikonya, memang kita jadi harus berusaha mengikuti Bapak. Kalau Bapak jalannya terlalu cepat buat kita, kita jadi harus berlari kecil menyamakan langkah. Tentunya akan lebih capek. Tapi Bapak tidak akan melepaskan tangan kita.”
Ben meneruskan, “Kalau musuhnya Bapak, dia selalu gendong kita. Memang awalnya terasa sangat enak dan nyaman. Santai dan tidak usah berusaha apa-apa. Tapi kita seperti batu yang menggelinding dari puncak gunung. Kita tak punya kuasa untuk mengendalikannya. Dan Empunya tipu muslihat tak mungkin membiarkan kita tahu kemana sebenarnya kita akan dibawa, yaitu siksaan kekal bersamanya.”
“Berbeda dengan Bapak yang selalu ingin kita berjalan bersamanya. Ia tidak ingin kita hanya pasrah. Ia ingin kita bertanya ke mana arah perjalanan kita, berdiskusi tentang perjalanan kita. Kalau capek, bilang saja. Mengeluhlah saat ingin mengeluh, mintalah istirahat saat lelah, bahkan kau boleh marah dan protes saat semua terasa terlalu berat. Karena Bapak kita sayang pada anaknya, yang mau peduli pada anaknya. Dia pasti akan berikan apa yang kaubutuhkan, sekalipun saat itu kamu tidak merasa membutuhkan.”
Lama Joe terdiam. Ben pun menahan lidahnya untuk bertanya. Dibiarkannya Joe bermain dengan pikirannya.
“Mas, aku lapar. Makan yuk..”
“Ayo.” Jawab Ben sambil tersenyum ceria. Rasa lega yang aneh muncul dalam hatinya.
“Lusa jemput aku ya?”
“Mau kemana?”
“Mau pulang.”
“Hehe...Bapak udah kangen tuh. Makanya dia manggil sampai kamu ga bisa nolak lagi.”
“Enak aja. Ini logikaku yang jalan.”
“Lah, masih berani bilang ini logikamu ?” Sindir Ben sambil tersenyum simpul.
Joe hanya tersipu. “Aku gak janji lusa uda bangun. Tapi pasti aku ada di kos.”
“Kalo ditelepon angkat dong.”
“Amiinnnn..”
*
Inspired by true story mixed with priest’s preach on Sunday Mass.
Sumber gambar : http://images.google.co.id/imglanding?q=perjalanan&imgurl=http://azaxs.net/journal/wp-content/uploads/2009/05/walk.jpg&imgrefurl=http://azaxs.net/journal/2009/05/perjalanan-itu.htm&usg=__EfIPXR5yLQzPSfrU3-4ch20vqWs=&h=315&w=420&sz=48&hl=id&sig2=v95nUTTSrBfkd0eGGHI_IA&itbs=1&tbnid=I9fbHgHXmDpgJM:&tbnh=94&tbnw=125&prev=/images%3Fq%3Dperjalanan%26hl%3Did%26sa%3DG%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&ei=ClmNS_-jIMq0rAf6ncGVAg&sa=G&gbv=2&tbs=isch:1&start=0#tbnid=I9fbHgHXmDpgJM&start=0
