Awal Maret kemaren adalah pertama kali saya melihat Terminal 3 Cengkareng yang baru dan bergaya modern. Pertama kalinya juga saya mendarat di Jakarta menjelang malam, di mana lampu-lampu mulai dinyalakan. Sungguh luar biasa, latar belakang hitam yang dihiasi kelap-kelip lampu di landasan membuat saya 'gatal' untuk mengabadikannya dengan kamera saya.
Celingak-celinguk, sambil tangan merogoh tas meraih kamera pocket saya, muncul rasa ragu di dalam hati. Satu, boleh gak ya motret di Bandara. Salah-salah saya malah ditegur petugas keamanan. Dua, repot ni, susah ngeluarin kamera dari tas tangan sementara satu tangan lain menenteng tas plastik yang lumayan berat. Tiga, blitz kamera saya cukup terang gak ya? Ntar malah tidak kelihatan apa-apa, percuma juga. Empat, saya malu diliatin orang, ntar dikira udik banget si, bandara aja belum pernah liat, sampe dipotret-potret segala.
Alhasil, saya pun urung mengambil satu gambar pun. Dengan berat hati saya berjalan ke bagian pengambilan bagasi tanpa berbuat apa-apa. Sambil menunggu koper saya datang, saya memandangi pintu masuk di belakang saya. Bisa ditebak, saya menyesaaaaallll sekali. Kenapa saya musti mikir hanya untuk satu jepretan saja? Kenapa begitu banyak rasionalisasi dan pembenaran yang muncul saat saya ingin melakukan sesuatu? Padahal, untuk bisa mendarat di Cengkareng di Terminal 3 pada jam yang sama kesempatannya tidak datang setahun sekali. Saya harus memesan tiket dari maskapai penerbangan yang sama, berangkat pada jam yang sama (dengan harapan tidak ada delay). Dan kalaupun akhirnya bisa, suasananya mungkin tidak akan sama lagi. Entah suasana obyeknya atau suasana hati saya yang berubah.
Saya merenung berhari-hari. Sebuah kesempatan yang mungkin tidak terlalu penting, tapi belum tentu datang lagi, telah saya biarkan lolos dari tangan saya dengan sadar dan sengaja. Mungkin sebelumnya, juga banyak kesempatan langka dalam hidup saya, yang lewat begitu saja, karena kemalasan, penundaan, ketakutan, keraguan, dan 'setan-setan' kecil lain yang bikin kita batal melakukan yang ingin kita lakukan. Padahal mungkin kesempatan itu tidak akan datang lagi, then finally you realize you've just lost your moment. Seperti hujan di bulan Maret yang panas ini, deras.. lalu menghilang tanpa bekas.
Jujur saja, untuk menulis refleksi inipun, butuh dua kali hujan di bulan Maret untuk mengingatkan saya akan langkanya momen-momen berharga dalam hidup ini. Ternyata sudah dibebani sesal pun, saya masih bandel. Saya jadi teringat adegan Tom Cruise yang sedang berlatih samurai untuk pertama kali dalam film "The Last Samurai". Instrukturnya berkata dengan bahasa Japanglish (Japanese-English), "Too many mind. Mind the opponent. Mind the people watching." Gitulah kurang lebih.
So, kadang-kadang spontanitas itu perlu dalam hidup ini. Itulah pelajaran yang saya dapat. When you wanna do something, when your heart feels right, and the moment is right, just do it! Ga usah terlalu banyak mikirin komentar orang, ga usah cari alasan dan pembenaran. Andaikata waktu itu saya nekad menjepret, dan ternyata kemudian saya dimarahi sekuriti, setidaknya sekarang saya punya satu atau dua gambar bukti kenekadan saya, yang membuat momen indah saat itu jadi lebih abadi. Tumbuh satu kepercayaan diri yang baru karena kita telah berbuat sesuai nurani kita.
So everyone...Catch your moment, before it gone forever.
