
"Sekedar refleksi dan sharing film yang kutonton setiap minggu pertama Bulan April."
Aku adalah seorang anak yang dibesarkan di dalam keluarga yang boleh dibilang religius. Orang tuaku sangat mengutamakan pendidikan agama di dalam keluarga. Papa adalah seorang aktifis dari ketika masih muda, berlanjut menjadi Dewan Pengurus Gereja saat sudah menjadi ayahku. Mama walaupun tidak banyak berkiprah di luar, juga sangat ketat dalam mendidik sisi rohani kami.
Beranjak dewasa, aku mulai mengikuti jejak Papa. Rumah ibadah kami adalah rumah keduaku, tempatku belajar melayani Tuhan dalam peribadatan, tempatku melarikan diri saat malas belajar atau bikin PR, bahkan tempat kaburku di tengah pemberontakanku terhadap orang tua. Aku pun menemukan 'keluarga' baru, yakni teman2 sepelayanan dan senasib denganku, sama-sama lari dari kegalauan hati masing2.
Jangan salah. Biarpun bandel, soal teori agama aku tetap jagonya (atau mungkin dipaksa jago). Bagaimana tidak? Papa sering membelikanku buku2 karangan pastor dan orang-orang pintar untuk didiskusikan bersama. Acara diskusi dan 'brainstorming' ini jadi ajang untuk menambah ilmu sekaligus menunjukkan ketajaman otak dan lidahku. Dan aku pun menyukainya, sampai saat ini.
Namun, apakah ini menjadikan aku kenal dengan Manusia yang Tersalib itu? Jawabannya TIDAK. Walaupun rumah-Nya adalah rumah kedua bagiku, aku tak akrab dengan Tuan Rumah-Nya. Walaupun aku fasih membahas masalah teologis berdasarkan teori-teori yang kubaca, aku tak kenal Siapa yang kubicarakan ini. Aku tetap rapuh, tetap lari ke sana kemari, berusaha memenuhi 'lubang' di hatiku dengan caraku sendiri. Aku tetap terluka, hingga puncaknya aku hampir menjadi atheis, atau paling tidak agnostik. Aku percaya Tuhan ada, somewhere out there... Di tempat yang tak terjangkau olehku. Entah dia peduli padaku atau tidak, aku pun tak terlalu peduli pada Nya...kalau Dia memang ada. Dan di masa-masa itu, aku TETAP seorang aktifis, yang berkarya tanpa pernah memberikan nyawa pada setiap pelayananku. Semua hanyalah rutinitas untuk mencari teman, pengalaman, dan mengobati rasa bosanku dengan sekolah. Aku tetap "Si Tukang Debat", tapi kata-kataku hanya teori kosong.
Tahun 2004, sebuah film yang fenomenal mengubah hidupku. Sejak awal promonya, entah kenapa aku sudah sangat penasaran. Bahkan aku rela menyewa VCD 'bajakan' dengan kualitas ancur karena saking tidak sabar menunggu filmnya di bioskop. Film itu adalah karya Mel Gibson, "The Passion of The Christ". Pertama kali kutonton, walaupun 'diganggu' oleh kualitas gambar dan suara di bawah rata-rata (Newsflash!! Makanya jangan nonton VCD 'bajakan'!), aku tak mampu lagi berkata-kata. Semua teori di kepalaku menguap entah kemana, berganti dengan rasa sesak di dada yang tak tertahankan. Ya, aku menangis (dan terus terjadi setiap kali aku menonton film itu hingga saat ini.)
Kali ini bukan air mata kemarahan dan kesepian. Aku menangis karena malu, merasa bersalah, bahagia, damai, dan entah apa lagi perasaan yang ada, tapi kurasakan perasaan2 itu 'menambal' lubang yang selama ini menganga di hatiku. Aku menangis, tapi aku tak lagi merasa dingin. Sebaliknya, aku merasa hangat, seperti kehangatan pelukan. Dan itu membuatku semakin menangis.
Adegan demi adegan terus berganti. Demikian juga pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan dalam hati. Benarkah semua ini Kaulakukan untukku? Aku yang bukan siapa-siapa ini? Aku yang tak lebih dari debu di mata-Mu? Aku yang bahkan ikut melempar batu ke arah-Mu dan melukai wajah-Mu? Ya, aku tak kuat lagi menahan rasa bersalahku ketika sadar bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang melukai tubuh dan hatiNya?
Semudah itukah Kauberikan pengampunan itu padaku? Setulus itukah hatiMu memaafkan orang-orang yang sudah menyakitiMu? Sejauh itukah Engkau memikirkan nasib dan keselamatan kami, hingga Engkau memilih jalan ini dengan berani? Saat Kau melihatku sekarang, apakah yang Kaulihat? Anak yang nakal, tak tahu diri, dan tak tahu terima kasih? Atau anak yang sangat Kaurindukan?
Tak ada jawaban yang kudengar, selain kehangatan yang semakin kurasakan di dalam hatiku. Biarpun aku belum mengenalMu, Kau telah lebih dulu mengenal dan mencintaiku, tanpa syarat. Karena Engkau adalah cinta, dan mencintai adalah hakikat diriMu. Kau mampu mengutuk, tapi selalu Kaupilih cinta, karena cinta ternyata 'obat' yang jauh melebihi keampuhan hukuman. Banyak orang yang mampu mengeraskan hati terhadap hukuman. Tapi siapa yang sanggup menolak cinta sebesar ini?
Jangan heran bila aku mendadak jadi cengeng setiap menjelang Paskah. Aku selalu menangis apabila teringat bilur-bilur yang kubuat di tubuhNya, setiap kali aku 'mencambuk' sesamaku dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Aku selalu menangis mengingat betapa murahnya pengampunan yang Ia berikan padaku yang bukan siapa-siapa ini. Namun kini aku tak harus lari ke mana pun lagi, karena jawaban yang selama ini kucari sudah ada dalam hatiku. 'Lubang' di hatiku, yang terus menganga tak peduli apapun yang kulakukan untuk menambalnya (dan tidak ada satupun usahaku yang berhasil) sudah ditutup dengan Cinta Terbesar yang ada di dunia. Dialah awal dan tujuan akhir hidupku, dan alasan aku hidup di dunia. Dia Kekasih dan Pemilik Jiwaku, Sang Manusia di atas kayu salib, yang darahNya telah tertumpah demi aku.
Happy Easter, All!!
Link gambar:http://static.squidoo.com/resize/squidoo_images/-1/lens2336830_1229730587dreamstime_1405768%5B1%5D.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar