Ballerina kecil itu berputar perlahan sambil memandangi rumah mewah di seberang jalan. Jendela toko mainan yang besar dan terbuat dari kaca, membuatnya bisa terus memandangi rumah besar bercat putih dari etalasenya. Matanya membulat penuh rasa penasaran dan takjub. Tangannya terangkat gemulai dan lehernya menjulur anggun. Setiap hari dilihatnya tiga gadis kecil bermain di lapangan rumput rumah itu dengan gembira, tertawa dan berguling kesana kemari dengan boneka-bonekanya. Boneka itu sama cantiknya dan sama anggunnya dengan pemilik-pemiliknya. Mereka berpakaian begitu indah dengan pita dan renda warna warni, senada dengan tiga gadis itu.
Semakin sering berputar, semakin sering Sang Ballerina memandang ke arah rumah mewah itu, semakin dia bermimpi untuk tinggal di sana, bergabung bersama boneka-boneka cantik yang ia lihat tiap hari. Sang Ballerina semakin hari semakin murung. Hatinya terus berharap dirinya suatu saat dilirik oleh salah satu pasang mata yang cantik milik tiga gadis kecil itu. Suatu hari, baterai yang memutar piringan di bawah kaki Sang Ballerina habis. Sang pemilik toko rupanya sedang pergi dan baru akan kembali sore nanti. Posisi Sang Ballerina terhenti pada saat ia membelakangi jendela. Sang Ballerina kesal sekali. Hilang sudah kesempatanya memandangi rumah dan pembeli impiannya.
“Ada apa di matamu ?” Tiba-tiba sebuah suara menyela kesedihannya. Sang Ballerina termangu sesaat dan kemudian disadarinya siapa yang berbicara padanya. Ditatapnya sebuah mata menyala di hadapannya. Dia tak menyadari entah sudah berapa hari ada sekotak boneka robot di situ. Dalam setiap putarannya, pikiran Sang Ballerina selalu terpaku pada jendela besar di mana dia bisa memandangi rumah mewah berwarna putih itu. Setiap kali membelakangi jendela, ia tidak pernah perlu repot-repot melihat apa yang ada di sana, karena ia selalu ingin kembali memandang ke arah jendela.
“Ini air mata. Tandanya aku sedang sedih. Tolong jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri.”
“Mengapa kau sedih ? Bukankah hari ini toko ramai dan cuaca cerah ?”
“Bateraiku habis, Robot..”
“Oh, sabarlah sedikit. Tuan pemilik toko akan pulang sore nanti dan pasti akan mengganti bateraimu.”
“Ah...dasar kau tidak tahu apa-apa. Hilang sudah kesempatanku memandangi impianku. Kau tidak tahu betapa berartinya bagiku saat-saat memandangi rumah di seberang jalan itu..rumah impianku..” Sang Ballerina mulai terisak. Tangisnya pecah dan lehernya yang menjulur anggun kini tertunduk lesu.
“Haa...aku masih tak mengerti. Tapi supaya kau tidak bosan, coba lihat ini..” Boneka Robot lalu menngedip-ngedipkan lampu merah di balik sepasang matanya yang berbentuk kotak. Menyala..mati, lalu menyala lagi, begitu terus berulang-ulang. Lalu kepalanya tiba-tiba berputar 360 derajat. Boneka Robot terus mengulangi gerakannya sampai Sang Ballerina tersenyum. Terus dan terus sampai Sang Ballerina tertawa.
Saat sang pemilik toko pulang, bertepatan dengan habisnya baterai dari Boneka Robot. Boneka Robot tergagap menyadari posisi kepalanya yang aneh, menghadap ke belakang, 180 derajat membelakangi Sang Ballerina. Sang Ballerina terbahak-bahak sampai keluar air mata. Belum pernah ia melihat kejadian sekonyol ini. Sang pemilik toko pun heran kenapa dua buah mainannya bisa kehabisan baterai secara bersamaan. Sang Ballerina dan Boneka Robot pun saling mengedipkan mata. Persahabatan pun terjalin tanpa kata.
*
Sejak hari itu, dalam setiap putaran Sang Ballerina, Boneka Robot selalu menyempatkan diri mengerlipkan lampu di matanya, atau memutar kepalanya dari dalam kotaknya. Sang Ballerina pun dalam setiap putarannya, kini selalu menyempatkan diri mengerling ke arah Boneka Robot. Walau ambisi dan impiannya kadang membuatnya berputar lebih cepat dan mengabaikan keberadaan Boneka Robot, Boneka Robot yang tak dapat berputar atau bergerak kemana pun selalu ingat untuk mengerlipkan mata atau memutar kepalanya. Tidak peduli Sang Ballerina melihatnya atau tidak.
Sang Ballerina hanya merasa, kini dia tak takut lagi kehabisan baterai. Walaupun impiannya harus menunggu untuk diteruskan, ada Boneka Robot yang selalu membuatnya tertawa. Ada boneka robot yang membuat waktu serasa berjalan cepat. Sehingga dia tak lagi bosan menunggu waktunya dia boleh bermimpi sambil memandang rumah mewah itu lagi. Selalu ada tawa dan keceriaan menantinya, entah Sang Ballerina ingat atau tidak. Sampai tiba datangnya hari itu....
Mata bulat Sang Ballerina terpaku pada tiga sosok pengunjung toko yang baru saja datang. Tiga orang gadis yang sangat cantik, berambut hitam lebat dan bergelombang, dengan pakaian indah dan gerakan anggun, bergerak dari satu etalase ke etalase. Pemilik toko mengikuti mereka dari belakang sambil sesekali menjawab pertanyaan mereka sambil tersenyum ramah. Sang Ballerina tak dapat melepaskan pandangannya sedikitpun dari tiga gadis itu. Ah, andaikata putarannya bisa berhenti sekarang, karena kakinya mulai terasa gemetar.
Dan tibalah gadis-gadis kecil itu di depan etalase tempat Sang Ballerina berputar. Jantung Sang Ballerina berdegup kencang. Badannya mulai gemetar dan putarannya sedikit tak terkendali. Dari sudut matanya, dilihatnya mata Boneka Robot berkelip sekali ke arahnya. Tapi dia terlalu gemetar untuk peduli. Di hadapannya, impiannya tinggal selangkah lagi untuk jadi nyata. Tuhan... semoga mereka mau membeliku.
“Kak, Ballerina ini cantik sekali. Lihat, betapa anggun wajah dan gerakannya.”
“Entahlah, Dik. Aku tak terlalu menginginkannya. Dia hanya bisa berputar dan berputar sesuai musik.”
“Oh, tenang saja Nona. Ada beberapa pilihan musik di sini. Kecepatan putarannya pun bisa disesuaikan.” Sang pemilik toko menjelaskan.
“Wah, menarik juga. Aku jadi penasaran. Bagaimana kalau kita beli saja ? Kita bisa meletakkannya di depan jendela. Aku setuju dengan Adik. Dia sangat cantik untuk dipandang.”
“Baiklah, terserah kalian. Toh harganya tak terlalu mahal. Bagiku yang penting Papa dan Mama tak akan marah kepada kita.” Si sulung pun mengalah pada desakan dua adiknya.
Dan dalam sekejap, Sang Ballerina sudah berada di dalam sebuah kotak dari plastik bening. Senyum mengembang di wajahnya, mengiringinya melangkah menuju rumah impiannya. Dari meja kasih dipandanginya Boneka Robot, dan seketika itu pula ada rasa berat di dadanya yang menghalanginya tersenyum. Boneka Robot memandangnya, mengerlipkan matanya sekali, kemudian memutar kepalanya sekali. Sang Ballerina tersenyum penuh rasa terima kasih atas persahabatan mereka. Boneka Robot masih mengerlipkan matanya sekali sesaat sebelum Sang Ballerina melewati pintu keluar toko Mainan.
*
Betapa bahagianya hati Sang Ballerina, ketika ia ditempatkan di jendela kamar si bungsu, yang menghadap ke arah toko mainan, tepat di seberang jendela besar tempat dia memandangi rumah mewah yang sekarang menjadi rumahnya. Dipandangnya rumah lamanya dengan penuh kerinduan. Dan ditemukannya sosok Boneka Robot di sana, terlihat begitu jelas dari tempatnya berdiri sekarang. Sang Ballerina tersenyum, kerinduannya sedikit terobati, apalagi kini impiannya telah terwujud. Rasa bangga dan bahagia menyelimuti hatinya.
Dari seberang jalan, Sang Ballerina masih sering melihat Boneka Robot mengerlipkan matanya dan memutar kepalanya, setiap kali ia menghadap ke arah toko mainan. Di sekitarnya kini adalah boneka-boneka yang mahal yang anggun dan cantik luar biasa. Sang Ballerina sering merasa gelisah, karena ia takut sewaktu-waktu baterainya habis dan tidak bisa berputar dengan anggun lagi, si bungsu akan bosan dan membuangnya. Di saat baterainya habis, Sang Ballerina lebih suka memandang ke arah Boneka Robot di seberang jalan, dari pada bertatapan dengan boneka-boneka cantik itu yang seakan-akan mengintimidasinya. Ditatapnya Boneka Robot yang sedang berkerlip dan memutar kepala. Beban hatinya terasa ringan lagi. Dan saat baterainya diganti, Sang Ballerina pun dapat berputar dengan indah lagi.
Sang Ballerina makin hari harus berputar makin cepat. Si bungsu menyukai irama lagu yang riang. Sang Ballerina harus berkonsentrasi, agar tak kalah dengan mainan-mainan yang lain. Putarannya semakin cepat, sehingga ia tak lagi sempat memandang ke arah toko mainan, di mana Boneka Robot masih setia berkerlip dan memutar kepala untuknya. “Tidak, aku tidak boleh kalah. Ini impianku seumur hidup. “ ujarnya dalam hati untuk memacu dirinya berputar secepat irama lagu kesukaan si bungsu. Sang Ballerina kini hampir lupa pada Boneka Robot terutama pada saat ia berputar. Hanya pada saat baterainya habis dan putarannya terhenti, ia dapat memandang keluar jendela dan menikmati putaran kepala dan kerlip mata Boneka Robot yang tak pernah berhenti.
Suatu ketika, saat baterainya sedang habis, Sang Ballerina kembali bertukar pandang dengan Boneka Robot, yang seperti biasa dengan tanpa beban mengerlipkan mata dan memutar kepalanya berulangkali. “Ada yang aneh,” pikir Sang Ballerina. Kali ini ia tidak melihat Boneka Robot berada dalam kotaknya. Belum habis ia berpikir, si bungsu datang dan memasang baterai baru. Sang Ballerina sudah harus kembali berputar dengan anggun demi sang pemilik. Sekilas dilihatnya, Boneka Robot masih berkerlip dan memutar kepala seperti biasa. Dan perlahan seiring dengan bertambah cepatnya putaran Sang Ballerina, rasa heran itu lenyap dari benaknya.
Sore ini Sang Ballerina termangu menunggu datangnya baterai baru. Dilemparkan pandangan ke jendela toko mainan, dan betapa terkejutnya dia, melihat Boneka Robot tak lagi berada di sana. Dipandangi jendela toko mainan dengan gelisah, dan pikirannya terus mencari tahu di mana Boneka Robot, sahabatnya yang sering ia lupakan. Tiba-tiba datanglah mobil besar dari pabrik mainan, dan dilihatnya si pemilik toko keluar membawa kantong besar. Sebuah mainan terlempar jatuh saat kantong besar itu dinaikkan ke dalam mobil. Sang Ballerina terperanjat... Mainan yang jatuh itu adalah Boneka Robot !! Hanya saja, kakinya...
Sang Ballerina teringat, dulu dia pernah melihat beberapa mainan yang sudah rusak dan tidak bisa dijual. Mainan-mainan itu biasanya akan dikembalikan ke pabrik, beberapa akan diperbaiki, tetapi kebanyakan diambil suku cadangnya untuk dibuat mainan dengan model baru yang lebih canggih. Sang Ballerina tersentak, mendadak dia menyadari mengapa saat terakhir ia melihat Boneka Robot dari balik jendela, Boneka Robot tidak lagi berada di kotaknya. Berarti saat itu, kaki Boneka Robot sudah rusak, sehingga dia dikeluarkan dari kotaknya. Rupanya pemilik toko saat itu sedang mencoba memperbaikinya. Dan tak sedikitpun Sang Ballerina menyadari keadaan temannya, karena mata hatinya tertutup ambisi dan impiannya.
Sang Ballerina terdiam memandang dari balik jendela. Sesaat sebelum si pemilik toko memungutnya, Sang Ballerina masih sempat melihat Boneka Robot mengerlipkan matanya sekali, dan setelah itu lampu di matanya padam. Pemilik toko memasukkannya lagi ke dalam karung di mobil. Dan Sang Ballerina tiba-tiba menyadari, ia takkan melihat Boneka Robot lagi. Tiba-tiba si bungsu masuk dan memasang baterai baru. Sang Ballerina kembali berputar dan berputar. Ia tak lagi mampu melihat jelas sekelilingnya. Kali ini bukan karena cepatnya putaran, tapi karena genangan air di matanya.
*
Waktu yang telah berlalu memang tak dapat diputar ulang. Kini dari balik jendela toko mainan, Sang Ballerina hanya dapat memandangi etalase tempat Boneka Robot yang kini ditempati mainan lain. Hatinya sesak oleh rasa sesal. Tak pernah sekalipun ia berputar untuk sahabatnya, tak peduli berapa kerlipan mata dan putaran kepala yang ia terima dan telah menawarkan kesedihannya. Ia selalu berputar dan berputar demi impian dan ambisinya, sehingga tak sempat sekalipun membalas kerlipan dan putaran kepala Boneka Robot yang tak pernah berhenti untuknya. Dipandanginya kamarnya kini, kamar gadis bungsu yang mewah, yang dulu diimpikannya, kini justru terasa hampa.
Hanya kenangan yang tertinggal kini. Penghuni etalase toko mainan terus datang dan pergi. Sang Ballerina kini ditempatkan di atas lemari, dengan baju baru yang cantik dan baterai yang lebih tahan lama. Mainan-mainan baru datang dan menemaninya, semua cantik dan indah. Kini Sang Ballerina tak lagi dapat memandangi jendela toko mainan. Namun ia tak menyesal. Kenangan dan pelajaran berharga yang ia peroleh saat bersama Boneka Robot telah tersimpan rapi di hatinya. Dalam setiap putarannya kini, Sang Ballerina berusaha memaknai dan merasakan setiap gerakannya. Ditutupnya mata dan diresapinya seluruh kenangan bersama Boneka Robot. Ya, putaran itu kini untuk persahabatan mereka.
-fin-
Dedicated to my dearest friend, Gregorius Krishna. Sejak sakitmu sampai tujuh hari kepergianmu, tak sekalipun kupanjatkan doa untukmu, karena aku terlalu sibuk mendoakan diriku sendiri dan impianku, sibuk dengan ‘putaran’ku sendiri. Tak banyak kenangan di antara kita, namun semuanya sangat berarti, dan turut membawaku ada di sini sekarang. Selamat jalan, Sahabat. Kini kau tak sakit lagi. Yesus tersenyum untukmu dan menuntunmu duduk di sisiNya di surga.
I don't wanna cry for you. I just want to remember you.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar